A. Definisi
psikologi pendidikan
Menurut
whiterington, 1982 : 10, psikologi pendidikan adalah studi sistematis terhadap
proses dan faktor-faktor
yang berhubungan dengan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan
meningkatkan keefisienan di dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah
proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari
batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi
pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila
beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi
psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi
pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan
proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Psikologi
pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang dalam penguraian dan penelitiannya
lebih menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik
maupun mental yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama
yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar. Psikologi pendidikan juga
mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan,
latar pendidikan, keberkesanan campur tangan pendidikan, efektivitas intervensi
pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai
organisasi.
Dalam
dunia pendidikan untuk mencapai pendidikan yang maksimal dan efektif bukan
hanya terkait pembahasan kurikulum belaka, namun juga permasalah psikologis
peserta didik dan model pengajaran pendidiknya juga harus tetap diperhatikan. Oleh karena itu,
psikologi pendidikan menjadi penting untuk dipelajari oleh setiap pendidik
ataupun calon pendidik. Ada
beberapa manfaat mempelajari psikologi pendidikan, yaitu dapat memahami
perbedaan siswa (Diversity of student). Setiap individu dilahirkan
dengan membawa potensi yang berbeda-beda, tidak ada yang sama antara siswa satu
dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami
keberagaman antara siswa satu dengan siswa yang lainnya, mulai dari perbedaan
tingkat pertumbuhannya, tugas perkembangannya sampai pada masing-masing potensi
yang dimiliki oleh anak. Dengan
pemahaman guru yang
baik terhadap siswanya, maka bisa menciptakan hasil pembelajaran yang efektif
dan efisien serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Selain
itu juga seorang pendidik harus dapat memilih strategi dan metode pembelajaran
yang sesuai dengan tugas perkembangan
dan karakteristik masing-masing peserta didiknya. Hal ini bisa didapatkan oleh
seorang guru dengan cara
mempelajari psikologi
terutama tugas-tugas perkembangan
manusia. Jika metode dan model pendidikan sudah bisa
menyesuaikan dengan kondisi peserta didik, maka proses pembelajaran bisa
berjalan dengan maksimal. Yang
paling penting adalah peran psikologi pendidikan adalah dapat menciptakan
keadaan yang kondusif di dalam kelas. Kemampuan guru dalam menciptakan iklim
dan kondisi pembelajaran yang kondusif mampu membantu proses pembelajaran berjalan secara efektif. Selain
berperan sebagai pengajar di dalam kelas , seorang guru juga diharapkan bisa
menjadi seorang pembimbing yang mampu memberikan bimbingan kepada peserta
didiknya , terutama ketika peserta didik mendapatkan permasalahan akademik.
Dengan peran sebagai seorang pembimbing , pendidik juga bisa melakukan
pendekatan secara emosional terhadap peserta didiknya. Tugas utama seorang
pendidik adalah mengajar di dalam kelas dan melakukan evaluasi dari hasil
pengajaran yang sudah dilakukan. Dengan
mempelajari psikologi pendidikan diharapkan seorang pendidik mampu memberikan
penilaian dan evaluasi secara adil dengan menyesuaikan kemampuan yang dimiliki
oleh masing-masing peserta didik tanpa membedakan antara satu dengan yang
lainnya.
Metode yang cocok digunakan dalam mempelajari psikologi
pendidikan adalah metode ilmiah. Metode ini merupakan prosedur yang sistematik
dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang
terbuka untuk dikritik, dikonfirmasikan, dimodifikasi, atau bahkan mungkin
ditolah kebenarannya oleh penelitian berikutnya. Digunakan untuk menyelesaikan
permasalahan perilaku yang lebih kompleks yang harus bisa dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.metode ini bagus karena akan selalu ada perbaikan di setiap
pendekatan yang ada.
B. Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah proses perubahan progresif yang
bersifat kuantitafif dan yang terjadi pada aspek fisik. Contohnya penambahan
berat badan. Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan progresif yang
bersifat kualitatif, fungsional, dan yang terjadi pada aspek fisik dan
psikisnya. Contonya adanya proses kedewasaan.
Yang paling menyenangkan pada saat mempelajari
pertumbuhan dan perkembangan ini adalah ketika kita dapat mengamati objek
langsung dan ikut meneliti atau menobservasi kepada objek yang akan diteliti. Ketika
ada objek langsung kita dapat membedakan mana yang dimanakan pertumbuhan atau
perkembangan. Contohnya, seorang anak laki-laki, Malik namanya dia belum bisa
mengenal warna-warna dan hanya bisa menulis lingkaran yang tak beraturan. Disini
kita bisa melihat bahwa belum adanya perkembangan tentang hal tersebut, namun
bebrapa bulan kemudian kualitatif yang Malik miliki akan jauh lebih baik dari
sebelumnya. Itulah hal yang sangat penting dalam mempelajari tentang
pertumbuhan dan perkembangan.
Adapun yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kegiatan
jasmaniah, keadaan sebelum lahir,saat lahir, dan sesudah lahir. Yang mempengaruhi
perkembangan adalah faktor biologi berupa kelahiran, genetis, masalah-masalah
kesehatan, masa kehamilan , perkembangan fisik, keseimbangan hormon, pubertas,
hubungan dengan orang lain, sekolah, teman sebaya dan lain sebagainya.
Surat Al-Mu’min ayat 67 :
هُـوَ الَّـذِيْ
خَـلَـقَ لَـكُمْ مِـنْ تُـرَابٍ ثُـمَّ مِـنْ نُـطْـفَـةٍ ثُـمَّ مِـنْ
عَـلَـقَـةٍ ثُـمَّ يُـخْـرِجُـكُـمْ طِـفْـلاً ثُـمَّ لِـتَبـْلُـغُـوْا
اَشًــدَّ كُـمْ ثُـمَّ لِـتَـكُـوْ نُـوْا شُـيُـوْخـًا ج وَ مِـنْـكُـمْ مَـنْ
يُّـتَـوَفَّى مِـنْ قَـبْـلُ وَ لِـتَـبْـلُـغُــوْا اَجَـلاً مُـسَــمًّى وَّ
لَـعَـلَّـكُـمْ تَـعْـقِـلــُوْ
“Dia-lah yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setes air mani, sesudah itu dari
segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu
dibiarkan hidup) supaya sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu
hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami
perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya
kamu memahami (nya)”.
C. Teori Belajar
Belajar
merupakan aktivitas sadar yang dilakukan oleh setiap orang guna menumbuh kembangkan daya
intelektualnya melalui berbagai proses yang sifatnya dapat menambah wawasan dan
pengetahuan dengan menggunakan beberapa teori dan metode yang ada, dengan
harapan setiap orang bisa mengubah paragigmanya. Kata belajar sebenarnya tidak
hanya pada ruang kelas atau bangku perkuliahan, belajar dapat di aplikasikan
tanpa mengenal tempat dan waktu. Definisi atau konsep belajar itu selalu
menunjukkan kepada sesuatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktik
atau pengalaman tertentu (Hilgard, 1948:4)
Salah
satu teori dalam belajar adalah teori belajar kognitif. Pembelajaran yang lebih
menekankan pada pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik.Untuk
meningkatkan kemampuan berfikir siswa, dan menbantu siswa mejadi pembelajar
yang sukses, maka pengajar yang menganut paham kognitivisme banyak melibatkan
siswa dalam kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving,
strategi belajar, memory retention skill sering ditekankan.Istilah metakognisi
berarti pengetahuan tentang pembelajaran diri sendiri (Flavell, 1985;
McCorkmick, 2003) atau tentang bagaimana belajar. Kemampuan berfikir dan kemampuan
studi adalah contoh kemampuan (metacognitive
skill). Siswa dapat diajarkan strategi-strategi untuk menilai pemahaman
mereka sendiri., dengan mencari tahu berapa banyak waktu yang akan mereka
butuhkan untuk mempelajari sesuatu, dan memilih rencana tindakan yang efektif
untuk belajar atau menyelesaikan soal-soal(McCorkmick, 2003). Faktor sosial dan
kognitif, dan juga faktor perilaku, mempunyai peran yang sangat penting dalam
pembelajaran.Albert Bandura (1986, 1997, 2000,2001) adalah salah satu arsitek
utama teori kognitif sosial. Dia mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka
dapat merepresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif.
Adapun
tokoh-tokoh kognitif adalah Piaget, Bruner, Dan ausubel. Menurut Piaget
individu berkembang menuju kedewasaan maka ia akan mengalami adaptasi dengan
lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan kualitatif dalam struktur
kognitifnya. Proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu :
a) Asimilasi,
yaitu penyatuan informasi (proses pengaitan informasi baru pada konsep-konsep
yang telah ada).
b) Akomodasi,
yaitu penyesuaian adaptasi dengan kondisi sekarang.
c) Equilibrasi,
yaitu penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Teori
Bruner di kenal free discovery learning,
yang menyatakan bahwa proses belajar akan belajar dengan baik jika pendidik
memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk menemukan suatu konsep,
teori, aturan atau penambahan melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya. Adapun teori selanjutnya menurut Ausubel .dalam teori ini, teori
belajar dimaknai sebagai belajar bermakna. Pembelajaran bermakna yaitu suatu
proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam
struktur kognitif seseorang. Prinsip teori kognitif, yaitu kognisi dan
pendekatan kognisi.Kognisi merupakan proses-proses mental atau aktivitas
pikiran manusia, misalnya proses-proses persepsi, ingatan, Bahasa, penalaran,
dan pemecahan masalah. Adapun pendekatan kognisi yaitu cara tertentu di dalam
mendekati berbagai fenomena psikologi manusia. Konsep ini menekankan pada
proses-proses persepsi, pengetahuan, ingatan, dan proses-proses berpikir bagi
perilaku manusia. Implikasi
dalam teori kognitif ialah dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan suatu masalah,
meningkatkan motivasi, membantu peserta didik untuk memahami bahan belajar
dengan lebih mudah. Keberhasilan
pembelajaran didasarkan pada kemampuan peserta didik. Pendidik pun dituntut
mengikuti keaktifan peserta didiknya dan pastinya di dukung oleh fasilitas yang
mendukung.
Teori belajar
kognitiflah yang lebih efektif dari teori belajar lainnya, karena faktor
kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan. Fisika sebagai salah satu cabang
IPA yang pada dasarnya bertujuan untuk mempelajari dan menganalisis pemahaman
kuantitatif gejala atau proses alam dan sifat zat serta penerapannya
(Wospakrik, 1994 : 1). Pendapat tersebut diperkuat oleh pernyataan bahwa fisika
merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari bagian-bagian dari alam dan
interaksi yang ada di dalamnya. Ilmu fisika dapat membantu untuk menguak dan
memahami tabir misteri alam semesta ini (Surya, 1997: 1).
Beberapa
penelitian telah dilakukan terkait dengan implementasi model konstruktivis
dalam pembelajaran fisika. Sadia (1996: 211) melakukan studi dengan menerapkan
model belajar konstruktivis dalam pembelajaran konsep energi, usaha dan suhu.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pengembangan model belajar
konstruktivis. Penelitian ini menggunakan konflik kognitif sebagai strategi
pengubahan miskonsepsi siswa menuju konsep ilmiah yang berpijak pada teori
konstruktivis Piaget dan menggunakan metode diskusi yang berpijak pada teori
konstruktivis Vygotsky. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa model belajar
konstruktivis memiliki keunggulan komparatif terhadap model belajar
konvensional dan tidak adanya efek interaksi yang signifikan antara inteligensi
dan model belajar.
Allah
berfirman dalam surat Al-Zumar ayat 9 yang berbunyi :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ
لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah :
apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang mampu menerima
pelajaran”.
Surat
Al-Isra’ ayat 36 :
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu membiasakan diri daripada apa yang tidak kamu ketahui,
karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan daya nalar pasti akan ditanya
mengenai itu”
Hidup
di dunia maupun bekal di akhirat nanti harus berilmu, sebagaimana sabda
Rasulullah saw yang berbunyi:
مَن
أَرَادَ الدنيَا فَعَلَيهِ بِالعِلم وَمَن أَرَادَ الاخِرَةَ فَعليهَ بِالعلمَ
وَمَن أَرَادَهُما فَعليهَ بالعلمِ
Artinya:
Barangsiapa
yang menginginkan (kebahagian) hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan
barangsiapa yang meninginkan (kebahagian) hidup di akhirat maka hendaklah ia
berilmu, dan barangsiapa yang menhendaki kedua-keduanya maka hendaklah ia
berilmu.
D. Motivasi
Tugas
utama seorang guru bukanlah hanya menerangkan hal-hal yang terdapat dalam
buku-buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan
membimbing murid-murid dalam usaha mereka mencapai. Pada hakikatnya semua
manusia memiliki
kebutuhan tertentu yang dirasakan oleh individu dan individu itu bertindak
dengan cara-cara yang diperhitungkan untuk memuaskan kebutuhannya tadi.
Kebutuhan-kebutuhan yang terdapat pada seseorang disadari atau tidak, dapat
digolongkan menjadi dua jenis : kebutuhan-kebutuhan biologis dan
kebutuhan-kebutuhan yang tergantung dari keadaan-keadaan sosial. Upaya untuk
mencapai tujuan atau kebutuhan tadi yaitu dengan cara memberikan dorongan atau
motivasi.
Motivasi
adalah proses memberikan semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya
perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah dan
bertahan lama. Ada beberapa persektif tentang motivasi.
- 1) Perspektif behavioral, yaitu menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan insentif dapat minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat (Emmer, dkk.2000).
- 2) Perspektif humanistis. Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulun sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.
- 3) Perspektif kognitif, yaitu pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif (Pintrich & Schunk,2002). Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalalan, terutama perspesi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif. Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan , perencanaan, dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan.
- 4) Perspektif sosial, yaitu kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercemin dari motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
- Motivasi ekstrinsik adalah melalukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Faktor ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Selain itu faktor yang mempengaruhu yaitu peran orang tua, peran pengajar, dan kondisi lingkungan. Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dan humanitis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsik dalam prestasi. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Faktor yang mempengaruhi faktor intrinsik adalah minat, cita-cita, dan kondisi siswa.
.jpg)
E. Intelegensi
![]() |
| Multiple Intellegenci |
Intelegensi
adalah perbuatan yang sangat baik sebagai yang ternyata dalam suatu aktivitas
yang efisien. Dan karena
perbuatan-perbuatan yang kita namakan baik itu dapat terjadi dalam berbagai
tingkat kebaikan, maka intelegensi pun terdapat berbagai peningkatan. Suatu aktivitas yang
dikatakan efisien, apabila aktifitas tadi dilakukan dengan cepat, mudah serta
tepat. Faktor
kecepatan, yaitu kecepatan dalam menyambut suatu perangsang, tidak dapat
diabaikan dalam menilai intelegensi seseorang. Kemudahan melakukan
suatu perbuatan yang dalam psikologi disebut fasilitas. Fasilitas harus kita
anggap sebagai faktor intelegensi yang penting pula. Anak yang pandai akan dapat
melakukan pekerjaannya dengan kecepatan serta fasilitas yang tinggi yaitu ia
akan dapat melakukan pekerjaanya dengan cepat dan mudah. Sebaliknya anak yang
kurang pintar akan lebih lambat dan menjumpai kesukaran yang lebih besar dalam
melakukan pekerjaanya. Adapun faktor intelegensi lainnya ialah tingkat
kelengkapan, kesesuain atau kecukupan dari suatu aktivitas.Intelegensi adalah
kemampuan yang dibawa sejak lahir.
Binet
dan Stern memfokuskan pada konsep intelegensi umum, yang oleh Stern dinamakan
IQ.Wechler percaya bahwa perlu untuk mendeskripsikan baik itu intelegensi umum
maupun intelegensi verbal spesifik dan intelegensi kinerja seseorang. Sejak
awal 1930-an, L.L. Thurstone (1938) mengatakan orang mempunyai tujuh kemampuan
intelektual spesifik, yang dinamakan kemampuan primer: pemahaman verbal,
kemampuan angka, kefasihan kata, visualisasi spasial memori asosiatif,
penalaran dan kecepatan persepsi.
Adapun
delapan kerangka pikiran Gardner.Howard Gardner (1983, 1993, 2002) percaya
bahwa ada banyak tipe intelegensi spesifik atau kerangka pikiran. Kerangka ini
dideskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan
masing-masing kerangka (Campbell, Campbell & Dickinson, 1999) :
- Keahlian verbal : kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan Bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis,wartawan, pembicara).
- Keahlian matematika : kemampuan untuk mnyelesaikan operasi matematika (ilmuwan, insinyur, akuntan).
- Keahlian spasial : kemampuan untuk berpikir tiga dimensi (arsitek, perupa, pelaut).
- Keahlian tubuh-kinestetik : kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet).
- Kahlian musik : sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara (composer, musisi dan pendengar yang sensitive).
- Keahlia intrapersonal : kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, psikolog).
- Kemampuan interpersonal : kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain (guru teladan, profesional kesehatan mental).
- Keahlian naturalis : kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).
Emotional
intelligence (kecerdasan emosional ) didefinisikan oleh Peter Salovy dan John
Mayer (1990) sebagai kemampuan untuk memonitor perasaan diri sendiri dan
perasaan serta emosi yang lain, kemampuan untuk membedakannya, dan kemampuan
untuk menggunakan informasi ini untuk memandu pemikiran dan tindakannya
sendiri.
Menurut
Goleman, Emotional intelligence terdiri dari empat area :
·
Developing emotional
awareness, seperti kemampuan untuk memisahkan perasaan dari tindakan.
·
Managing emotions,
seperti mampu untuk mengendalikan amarah.
·
Reading emotions,
memahami prespektif orang lain.
Surat Al-Mu’min ayat 67
هُـوَ الَّـذِيْ
خَـلَـقَ لَـكُمْ مِـنْ تُـرَابٍ ثُـمَّ مِـنْ نُـطْـفَـةٍ ثُـمَّ مِـنْ
عَـلَـقَـةٍ ثُـمَّ يُـخْـرِجُـكُـمْ طِـفْـلاً ثُـمَّ لِـتَبـْلُـغُـوْا
اَشًــدَّ كُـمْ ثُـمَّ لِـتَـكُـوْ نُـوْا شُـيُـوْخـًا ج وَ مِـنْـكُـمْ مَـنْ
يُّـتَـوَفَّى مِـنْ قَـبْـلُ وَ لِـتَـبْـلُـغُــوْا اَجَـلاً مُـسَــمًّى وَّ
لَـعَـلَّـكُـمْ تَـعْـقِـلــُوْنَ
“Dia-lah yang
menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setes air mani, sesudah itu dari
segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu
dibiarkan hidup) supaya sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu
hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami
perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya
kamu memahami (nya)”.
F.
Behaviorisme
Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan
tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu
menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya
masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa
respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak
penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan
diukur hanyalah stimulus dan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktifitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktifitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.
G.
Humanisme
Pendekatan humanisme dalam
pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada
potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan
mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal
sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri,
menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan
membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan
karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik,
belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan
dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun
ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini
berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari
sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si
siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk
mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam
mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Ada salah satu ide penting dalam
teori belajar humanisme yaitu siswa harus mampu untuk mengarahkan dirinya
sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang
dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan
juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar.
Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil
belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah
proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu
dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dengan kata lain, pendekatan
humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka,
dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran
humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan
siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran
lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan
menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk
diaplikasikan dalam proses
pembelajaran.
REFERENSI
Slavin, Robert.2008. Psikologi Pendidikan edisi kedelepan. Jakarta : PT Indeks
Mahmud, syamsuddin.2009. psikologi pendidikan. Bandung.: pustaka setia
whitherington.1987. psikologi pendidikan. Jakarta : PT aksara baru
REFERENSI
Slavin, Robert.2008. Psikologi Pendidikan edisi kedelepan. Jakarta : PT Indeks
Mahmud, syamsuddin.2009. psikologi pendidikan. Bandung.: pustaka setia
whitherington.1987. psikologi pendidikan. Jakarta : PT aksara baru
.jpg)
.jpg)
.jpg)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar