Kamis, 23 April 2015

Selayang Pandang Psikologi Pendidikan


            A.  Definisi psikologi pendidikan

Menurut whiterington, 1982 : 10, psikologi pendidikan adalah studi sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan keefisienan di dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang dalam penguraian dan penelitiannya lebih menekankan pada masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mental yang sangat erat hubungannya dengan masalah pendidikan terutama yang mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar. Psikologi pendidikan juga mempelajari bagaimana manusia belajar dalam pendidikan pengaturan, latar pendidikan, keberkesanan campur tangan pendidikan, efektivitas intervensi pendidikan, psikologi pengajaran, dan psikologi sosial dari sekolah sebagai organisasi.
Dalam dunia pendidikan untuk mencapai pendidikan yang maksimal dan efektif bukan hanya terkait pembahasan kurikulum belaka, namun juga permasalah psikologis peserta didik dan model pengajaran pendidiknya juga harus tetap diperhatikan. Oleh karena itu, psikologi pendidikan menjadi penting untuk dipelajari oleh setiap pendidik ataupun calon pendidik. Ada beberapa manfaat mempelajari psikologi pendidikan, yaitu dapat memahami perbedaan siswa (Diversity of student). Setiap individu dilahirkan dengan membawa potensi yang berbeda-beda, tidak ada yang sama antara siswa satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu, seorang guru harus memahami keberagaman antara siswa satu dengan siswa yang lainnya, mulai dari perbedaan tingkat pertumbuhannya, tugas perkembangannya sampai pada masing-masing potensi yang dimiliki oleh anak. Dengan pemahaman guru yang baik terhadap siswanya, maka bisa menciptakan hasil pembelajaran yang efektif dan efisien serta mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Selain itu juga seorang pendidik harus dapat memilih strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan tugas perkembangan dan karakteristik masing-masing peserta didiknya. Hal ini bisa didapatkan oleh seorang guru dengan cara mempelajari psikologi terutama tugas-tugas perkembangan manusia. Jika metode dan model pendidikan sudah bisa menyesuaikan dengan kondisi peserta didik, maka proses pembelajaran bisa berjalan dengan maksimal. Yang paling penting adalah peran psikologi pendidikan adalah dapat menciptakan keadaan yang kondusif di dalam kelas. Kemampuan guru dalam menciptakan iklim dan kondisi pembelajaran yang kondusif mampu membantu proses  pembelajaran berjalan secara efektif. Selain berperan sebagai pengajar di dalam kelas , seorang guru juga diharapkan bisa menjadi seorang pembimbing yang mampu memberikan bimbingan kepada peserta didiknya , terutama ketika peserta didik mendapatkan permasalahan akademik. Dengan peran sebagai seorang pembimbing , pendidik juga bisa melakukan pendekatan secara emosional terhadap peserta didiknya. Tugas utama seorang pendidik adalah mengajar di dalam kelas dan melakukan evaluasi dari hasil pengajaran yang sudah dilakukan. Dengan mempelajari psikologi pendidikan diharapkan seorang pendidik mampu memberikan penilaian dan evaluasi secara adil dengan menyesuaikan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya.
Metode yang cocok digunakan dalam mempelajari psikologi pendidikan adalah metode ilmiah. Metode ini merupakan prosedur yang sistematik dalam memecahkan permasalahan dan merupakan suatu pendekatan objektif yang terbuka untuk dikritik, dikonfirmasikan, dimodifikasi, atau bahkan mungkin ditolah kebenarannya oleh penelitian berikutnya. Digunakan untuk menyelesaikan permasalahan perilaku yang lebih kompleks yang harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.metode ini bagus karena akan selalu ada perbaikan di setiap pendekatan yang ada.





B. Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah proses perubahan progresif yang bersifat kuantitafif dan yang terjadi pada aspek fisik. Contohnya penambahan berat badan. Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan progresif yang bersifat kualitatif, fungsional, dan yang terjadi pada aspek fisik dan psikisnya. Contonya adanya proses kedewasaan.
Yang paling menyenangkan pada saat mempelajari pertumbuhan dan perkembangan ini adalah ketika kita dapat mengamati objek langsung dan ikut meneliti atau menobservasi kepada objek yang akan diteliti. Ketika ada objek langsung kita dapat membedakan mana yang dimanakan pertumbuhan atau perkembangan. Contohnya, seorang anak laki-laki, Malik namanya dia belum bisa mengenal warna-warna dan hanya bisa menulis lingkaran yang tak beraturan. Disini kita bisa melihat bahwa belum adanya perkembangan tentang hal tersebut, namun bebrapa bulan kemudian kualitatif yang Malik miliki akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Itulah hal yang sangat penting dalam mempelajari tentang pertumbuhan dan perkembangan.

Adapun yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kegiatan jasmaniah, keadaan sebelum lahir,saat lahir, dan sesudah lahir. Yang mempengaruhi perkembangan adalah faktor biologi berupa kelahiran, genetis, masalah-masalah kesehatan, masa kehamilan , perkembangan fisik, keseimbangan hormon, pubertas, hubungan dengan orang lain, sekolah, teman sebaya dan lain sebagainya.
Surat Al-Mu’min ayat 67 :

هُـوَ الَّـذِيْ خَـلَـقَ لَـكُمْ مِـنْ تُـرَابٍ ثُـمَّ مِـنْ نُـطْـفَـةٍ ثُـمَّ مِـنْ عَـلَـقَـةٍ ثُـمَّ يُـخْـرِجُـكُـمْ طِـفْـلاً ثُـمَّ لِـتَبـْلُـغُـوْا اَشًــدَّ كُـمْ ثُـمَّ لِـتَـكُـوْ نُـوْا شُـيُـوْخـًا ج وَ مِـنْـكُـمْ مَـنْ يُّـتَـوَفَّى مِـنْ قَـبْـلُ وَ لِـتَـبْـلُـغُــوْا اَجَـلاً مُـسَــمًّى وَّ لَـعَـلَّـكُـمْ تَـعْـقِـلــُوْ

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya)”.



C. Teori Belajar

Belajar merupakan aktivitas sadar yang dilakukan oleh setiap orang guna menumbuh kembangkan daya intelektualnya melalui berbagai proses yang sifatnya dapat menambah wawasan dan pengetahuan dengan menggunakan beberapa teori dan metode yang ada, dengan harapan setiap orang bisa mengubah paragigmanya. Kata belajar sebenarnya tidak hanya pada ruang kelas atau bangku perkuliahan, belajar dapat di aplikasikan tanpa mengenal tempat dan waktu. Definisi atau konsep belajar itu selalu menunjukkan kepada sesuatu proses perubahan perilaku  atau pribadi seseorang berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu (Hilgard, 1948:4)

Salah satu teori dalam belajar adalah teori belajar kognitif. Pembelajaran yang lebih menekankan pada pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki peserta didik.Untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa, dan menbantu siswa mejadi pembelajar yang sukses, maka pengajar yang menganut paham kognitivisme banyak melibatkan siswa dalam kegiatan dimana faktor motivasi, kemampuan problem solving, strategi belajar, memory retention skill sering ditekankan.Istilah metakognisi berarti pengetahuan tentang pembelajaran diri sendiri (Flavell, 1985; McCorkmick, 2003) atau tentang bagaimana belajar. Kemampuan berfikir dan kemampuan studi adalah contoh kemampuan (metacognitive skill). Siswa dapat diajarkan strategi-strategi untuk menilai pemahaman mereka sendiri., dengan mencari tahu berapa banyak waktu yang akan mereka butuhkan untuk mempelajari sesuatu, dan memilih rencana tindakan yang efektif untuk belajar atau menyelesaikan soal-soal(McCorkmick, 2003). Faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, mempunyai peran yang sangat penting dalam pembelajaran.Albert Bandura (1986, 1997, 2000,2001) adalah salah satu arsitek utama teori kognitif sosial. Dia mengatakan bahwa ketika murid belajar, mereka dapat merepresentasikan atau mentransformasi pengalaman mereka secara kognitif.

Adapun tokoh-tokoh kognitif adalah Piaget, Bruner, Dan ausubel. Menurut Piaget individu berkembang menuju kedewasaan maka ia akan mengalami adaptasi dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan kualitatif dalam struktur kognitifnya. Proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yaitu :
a)      Asimilasi, yaitu penyatuan informasi (proses pengaitan informasi baru pada konsep-konsep yang telah ada).
b)      Akomodasi, yaitu penyesuaian adaptasi dengan kondisi sekarang.
c)      Equilibrasi, yaitu penyesuaian yang berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Teori Bruner di kenal free discovery learning, yang menyatakan bahwa proses belajar akan belajar dengan baik jika pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau penambahan melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Adapun teori selanjutnya menurut Ausubel .dalam teori ini, teori belajar dimaknai sebagai belajar bermakna. Pembelajaran bermakna yaitu suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Prinsip teori kognitif, yaitu kognisi dan pendekatan kognisi.Kognisi merupakan proses-proses mental atau aktivitas pikiran manusia, misalnya proses-proses persepsi, ingatan, Bahasa, penalaran, dan pemecahan masalah. Adapun pendekatan kognisi yaitu cara tertentu di dalam mendekati berbagai fenomena psikologi manusia. Konsep ini menekankan pada proses-proses persepsi, pengetahuan, ingatan, dan proses-proses berpikir bagi perilaku manusia. Implikasi dalam teori kognitif ialah dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan suatu masalah, meningkatkan motivasi, membantu peserta didik untuk memahami bahan belajar dengan lebih mudah. Keberhasilan pembelajaran didasarkan pada kemampuan peserta didik. Pendidik pun dituntut mengikuti keaktifan peserta didiknya dan pastinya di dukung oleh fasilitas yang mendukung.
Teori belajar kognitiflah yang lebih efektif dari teori belajar lainnya, karena faktor kognitif mencakup ekspektasi, keyakinan, strategi, pemikiran dan kecerdasan. Fisika sebagai salah satu cabang IPA yang pada dasarnya bertujuan untuk mempelajari dan menganalisis pemahaman kuantitatif gejala atau proses alam dan sifat zat serta penerapannya (Wospakrik, 1994 : 1). Pendapat tersebut diperkuat oleh pernyataan bahwa fisika merupakan suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari bagian-bagian dari alam dan interaksi yang ada di dalamnya. Ilmu fisika dapat membantu untuk menguak dan memahami tabir misteri alam semesta ini (Surya, 1997: 1).
Beberapa penelitian telah dilakukan terkait dengan implementasi model konstruktivis dalam pembelajaran fisika. Sadia (1996: 211) melakukan studi dengan menerapkan model belajar konstruktivis dalam pembelajaran konsep energi, usaha dan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas pengembangan model belajar konstruktivis. Penelitian ini menggunakan konflik kognitif sebagai strategi pengubahan miskonsepsi siswa menuju konsep ilmiah yang berpijak pada teori konstruktivis Piaget dan menggunakan metode diskusi yang berpijak pada teori konstruktivis Vygotsky. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa model belajar konstruktivis memiliki keunggulan komparatif terhadap model belajar konvensional dan tidak adanya efek interaksi yang signifikan antara inteligensi dan model belajar.
Allah berfirman dalam surat Al-Zumar ayat 9 yang berbunyi :



قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah : apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang mampu menerima pelajaran”.

    Surat Al-Isra’ ayat 36 :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا



“Dan janganlah kamu membiasakan diri daripada apa yang tidak kamu ketahui, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan daya nalar pasti akan ditanya mengenai itu”

Hidup di dunia maupun bekal di akhirat nanti harus berilmu, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:
مَن أَرَادَ الدنيَا فَعَلَيهِ بِالعِلم وَمَن أَرَادَ الاخِرَةَ فَعليهَ بِالعلمَ وَمَن أَرَادَهُما فَعليهَ بالعلمِ

      Artinya:
Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang meninginkan (kebahagian) hidup di akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang menhendaki kedua-keduanya maka hendaklah ia berilmu.

D. Motivasi

Tugas utama seorang guru bukanlah hanya menerangkan hal-hal yang terdapat dalam buku-buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membimbing murid-murid dalam usaha mereka mencapai. Pada hakikatnya semua manusia memiliki kebutuhan tertentu yang dirasakan oleh individu dan individu itu bertindak dengan cara-cara yang diperhitungkan untuk memuaskan kebutuhannya tadi. Kebutuhan-kebutuhan yang terdapat pada seseorang disadari atau tidak, dapat digolongkan menjadi dua jenis : kebutuhan-kebutuhan biologis dan kebutuhan-kebutuhan yang tergantung dari keadaan-keadaan sosial. Upaya untuk mencapai tujuan atau kebutuhan tadi yaitu dengan cara memberikan dorongan atau motivasi.
Motivasi adalah proses memberikan semangat, arah, dan kegigihan perilaku. Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energy, terarah dan bertahan lama. Ada beberapa persektif tentang motivasi.


  • 1) Perspektif behavioral, yaitu menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid. Pendukung penggunaan insentif menekankan insentif dapat minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak tepat (Emmer, dkk.2000).
  • 2) Perspektif humanistis. Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain). Perspektif ini berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulun sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.
  • 3) Perspektif kognitif, yaitu pemikiran murid akan memandu motivasi mereka. Belakangan ini muncul minat besar pada motivasi menurut perspektif kognitif (Pintrich & Schunk,2002). Minat ini berfokus pada ide-ide seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalalan, terutama perspesi bahwa usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan mereka bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka secara efektif. Perspektif kognitif juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan , perencanaan, dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan.
  • 4)      Perspektif sosial, yaitu kebutuhan afiliasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercemin dari motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.

  • Motivasi ekstrinsik adalah melalukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Faktor ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Selain itu faktor yang mempengaruhu yaitu peran orang tua, peran pengajar, dan kondisi lingkungan. Perspektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam prestasi ini, sedangkan pendekatan kognitif dan humanitis lebih menekankan pada arti penting dari motivasi intrinsik dalam prestasi. Motivasi intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Faktor yang mempengaruhi faktor intrinsik adalah minat, cita-cita, dan kondisi siswa.




E. Intelegensi

Multiple Intellegenci
Intelegensi adalah perbuatan yang sangat baik sebagai yang ternyata dalam suatu aktivitas yang efisien. Dan karena perbuatan-perbuatan yang kita namakan baik itu dapat terjadi dalam berbagai tingkat kebaikan, maka intelegensi pun terdapat berbagai peningkatan. Suatu aktivitas yang dikatakan efisien, apabila aktifitas tadi dilakukan dengan cepat, mudah serta tepat. Faktor kecepatan, yaitu kecepatan dalam menyambut suatu perangsang, tidak dapat diabaikan dalam menilai intelegensi seseorang. Kemudahan melakukan suatu perbuatan yang dalam psikologi disebut fasilitas. Fasilitas harus kita anggap sebagai faktor intelegensi yang penting pula. Anak yang pandai akan dapat melakukan pekerjaannya dengan kecepatan serta fasilitas yang tinggi yaitu ia akan dapat melakukan pekerjaanya dengan cepat dan mudah. Sebaliknya anak yang kurang pintar akan lebih lambat dan menjumpai kesukaran yang lebih besar dalam melakukan pekerjaanya. Adapun faktor intelegensi lainnya ialah tingkat kelengkapan, kesesuain atau kecukupan dari suatu aktivitas.Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir.
Binet dan Stern memfokuskan pada konsep intelegensi umum, yang oleh Stern dinamakan IQ.Wechler percaya bahwa perlu untuk mendeskripsikan baik itu intelegensi umum maupun intelegensi verbal spesifik dan intelegensi kinerja seseorang. Sejak awal 1930-an, L.L. Thurstone (1938) mengatakan orang mempunyai tujuh kemampuan intelektual spesifik, yang dinamakan kemampuan primer: pemahaman verbal, kemampuan angka, kefasihan kata, visualisasi spasial memori asosiatif, penalaran dan kecepatan persepsi.
Adapun delapan kerangka pikiran Gardner.Howard Gardner (1983, 1993, 2002) percaya bahwa ada banyak tipe intelegensi spesifik atau kerangka pikiran. Kerangka ini dideskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan masing-masing kerangka (Campbell, Campbell & Dickinson, 1999) :
  1. Keahlian verbal : kemampuan untuk berpikir dengan kata dan menggunakan Bahasa untuk     mengekspresikan makna (penulis,wartawan, pembicara).
  2. Keahlian matematika : kemampuan untuk mnyelesaikan operasi matematika (ilmuwan, insinyur, akuntan).
  3. Keahlian spasial : kemampuan untuk berpikir tiga dimensi (arsitek, perupa, pelaut).
  4. Keahlian tubuh-kinestetik : kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik (ahli bedah, pengrajin, penari, atlet).
  5. Kahlian musik : sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara (composer, musisi dan pendengar yang sensitive).
  6. Keahlia intrapersonal : kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, psikolog).
  7. Kemampuan interpersonal : kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain (guru teladan, profesional kesehatan mental).
  8.  Keahlian naturalis : kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).

Emotional intelligence (kecerdasan emosional ) didefinisikan oleh Peter Salovy dan John Mayer (1990) sebagai kemampuan untuk memonitor perasaan diri sendiri dan perasaan serta emosi yang lain, kemampuan untuk membedakannya, dan kemampuan untuk menggunakan informasi ini untuk memandu pemikiran dan tindakannya sendiri.

       Menurut Goleman, Emotional intelligence terdiri dari empat area :
·         Developing emotional awareness, seperti kemampuan untuk memisahkan perasaan dari tindakan.
·         Managing emotions, seperti mampu untuk mengendalikan amarah.
·         Reading emotions, memahami prespektif orang lain.
·         Handling relationships, seperti kemampuan untuk memecahkan problem hubungan.


Surat Al-Mu’min ayat 67

هُـوَ الَّـذِيْ خَـلَـقَ لَـكُمْ مِـنْ تُـرَابٍ ثُـمَّ مِـنْ نُـطْـفَـةٍ ثُـمَّ مِـنْ عَـلَـقَـةٍ ثُـمَّ يُـخْـرِجُـكُـمْ طِـفْـلاً ثُـمَّ لِـتَبـْلُـغُـوْا اَشًــدَّ كُـمْ ثُـمَّ لِـتَـكُـوْ نُـوْا شُـيُـوْخـًا ج وَ مِـنْـكُـمْ مَـنْ يُّـتَـوَفَّى مِـنْ قَـبْـلُ وَ لِـتَـبْـلُـغُــوْا اَجَـلاً مُـسَــمًّى وَّ لَـعَـلَّـكُـمْ تَـعْـقِـلــُوْنَ

“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya)”.

F. Behaviorisme

Teori behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah stimulus dan respons.
Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat. Tokoh-tokoh penting teori behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai aktifitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

G. Humanisme

Pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harus mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.


Dengan kata lain, pendekatan humanisme menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Sehingga para pendidik/guru diharapkan dalam pembelajaran lebih menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk 
diaplikasikan dalam proses pembelajaran.


REFERENSI

Slavin, Robert.2008. Psikologi Pendidikan edisi kedelepan. Jakarta : PT Indeks
Mahmud, syamsuddin.2009. psikologi pendidikan. Bandung.: pustaka setia
whitherington.1987. psikologi pendidikan. Jakarta : PT aksara baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar