Selasa, 02 Juni 2015

Prestasi Belajar




1.     Pengertian Prestasi Belajar 
gambar 1. prestasi belajar

            Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi, untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan evaluasi, tujuanya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Menurut Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2008 : 18) prestasi merupakan hasil belajar yang berasal dari infomasi yang telah diperoleh pada tahap proses belajar sebelumnya.
            Menurut Asep Jihat (2009:1) belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. sedangkan menurut Sardiman (1996:22) belajar merupakan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Prestasi belajar yang sering disebut juga hasil belajar yang artinya apa yang telah dicapai oleh suatu siswa setelah melakukan kegiatan balajar yang mencakup aspek kongnitif, afektif dan psikomotor (Tohirin, 2005 : 151).
            Belajar adalah suatu proses atau usaha untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Belajar dapat diartikan berusaha atau berlatih supaya mendapat kepandaian. Belajar adalah merupakan dasar untuk memahami perilaku. Studi psikologi tentang masalah fundamental tentang perkembangan emosi, motivasi, perilaku sosial, dan kepribadian.

Hidup di dunia maupun bekal di akhirat nanti harus berilmu, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

مَن أَرَادَ الدنيَا فَعَلَيهِ بِالعِلم وَمَن أَرَادَ الاخِرَةَ فَعليهَ بِالعلمَ وَمَن أَرَادَهُما فَعليهَ بالعلمِ
            Artinya:
Barangsiapa yang menginginkan (kebahagian) hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang meninginkan (kebahagian) hidup di akhirat maka hendaklah ia berilmu, dan barangsiapa yang menhendaki kedua-keduanya maka hendaklah ia berilmu.
Allah berfirman dalam surat Al-Zumar ayat 9 yang berbunyi :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
            Artinya : 
“Katakanlah : apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang mampu menerima pelajaran”.

            Prestasi siswa dapat diartikan hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar mengajar. Menurut Hadari Nawawi (1998 :100) Prestasi belajar adalah tingkatan keberhasilan dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes.
            Dalam psikologi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. Maupun faktor kematangan fisik maupun psikis.
             Dalam prestasi belajar ada grafik yang menunjukan tentang prestasi belajar. bisa dilihat, grafik dibawah ini adalah grafik tentang prestasi belajar yang mana di dominasi dengan cara mendengarkan dan memperhatikan presentasi atau penjelasan guru dalam segi keaktifan belajarnya.
grafik 1. prestasi belajar

 
            Menurut Oemar Hamalik (2003:146) untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar siswa maka perlu diadakan pengukuran secara :
  1. Penilaian (assessment)adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur prestasi belajar (achievement) siswa sebagai  hasil dari suatu program intruksional.
  2. Pengukuran (measurement) berkenaan dengan pengumpulan data deskriptif tentang produk siswa dan atau tingkah laku siswa, dan hubungannya dengan standar prestasi atau norma.
            Berdasarkan pengertian diatas maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki oleh siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi – informasi sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran, yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Tinggi rendahnya prestasi belajar  siswa dapat diketahui setelah diadakan penilaian hasil belajar.

                Ada beberapa tipe prestasi belajar, yaitu : 
gambar 2. tipe prestasi belajar


1. Tipe prestasi belajar bidang kognitif (Ranah Cipta)
 gambar 3. tipe belajar kognitif

Tipe prestasi belajar bidang kognitif mencakup :
a)      Pengamatan: dapat menunjukkan, membandingkan dan menghubungkan
b)      Ingatan: dapat menyebutkan dan menunjukkan kembali
c)      Pemahaman: dapat menjelaskan dan mendefinisikan dengan lisan sendiri
d)     Penerapan: dapat memberikan contoh dan menggunakan secara tepat
e)      Analisis (pemeriksaan dan pemilahan secara teliti): dapat menguraikan dan mengklasifikasi/memilah-milah
f)     Sintesis (membuat paduan baru dan utuh): dapat menghubungkan, menyimpulkan dan menggeneralisasikan (membuat prinsip umum).
 
      2. Tipe prestasi belajar bidang afektif ( Ranah Rasa)
gambar 4. tipe belajar afektif

Tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe prestasi belajar mencakup :
a)      Receiving atau attending, yakni kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang dari siswa, baik dalam bentuk masalah, situasi dan gejala.
b)      Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar
c)      Valuing (penilaian), yakni berkenaan dengan penilaian dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus
d)  Organisasi, yakni pengembangan nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan suatu nilai yang telah dimilikinya.
e)     Karakteristik atau interalisasi nilai, yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan perilakunya.
 
      3. Tipe prestasi belajar bidang psikomotor (Ranah Karsa)
     Tipe prestasi belajar bidang psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak seseorang. Adapun tingkat keterampilan itu meliputi :
a)      Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang sering tidak disadari karena sudah merupakan kebiasaan)
b)      Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar
c)  Kemampuan perspektual termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain
d)     Kemampuan di bidang fisik seperti kekuatan, keharmonisan dan ketepatan
e)    Gerakan-gerakan yang berkaitan dengan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks.
f)      Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti gerakan ekspresf dan interpretatif.

            Menurut Slameto (1998 : 56) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor interen dan faktor eksteren. Secara rinci faktor tersebut adalah sebagai berikut :
               1)      Faktor intern meliputi :
  1. Faktor jasmani yang terdiri atas faktor kesehatan dan cacat tubuh
  2. Faktor psikologi yang terdiri atas intelegensi, perhatian, minat,   bakat,motif, kematangan, dan kelemahan. 
               2)      Faktor ekstern meliputi :
  1. Faktor keluarga terdiri atas cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
    keluarga adalah suatu sistem pendidikan yang pertama dan utama. Sebab di dalam keluarga inilah tempat meletakan dasar-dasar kepribadian anak didik. Dalam ajaran Islam dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW., sebagaimana sabdanya yang berbunyi :

                 ﻪﻧﺍﺮﺼﻧﻳﻮﺍ ﻪﻧ ﺍﺪﻭﻬﻳ ﻩﺍﻮﺒﺎﻔ ﺓﺭﻃﻔﻠﺍﻰﻠﻋﺪﻟﻭﻳﻻﺍﺪﻭﻟﻮﻣﻦﻤﺎﻤ              ﻪﻧﺎﺴﺤﻤﻳﻭﺍ

    Artinya : “Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia lancar lisannya (berbahasa) maka kedua orang tuanyalahan yg menjadikan ia kafir Yahudi atau Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari Muslim).              Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa pendidikan keluarga memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak didik. Moh. Abdai Rathomy menegaskan : kedua orang tua itu mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengajar putra-putrinya. (1973 : 283), karena : pendidikan keluarga sebagai sumber dan dasar lingkungan yang lainnya. (Ag. Soejono, 1980 : 93).Mengingat sangat pentingnya pendidikan keluarga, maka Islam memandang keluarga itu sebagai lembaga hidup manusia yang menentukan baik buruknya dan celaka ataupun bahagianya di dunia dan di akhirat kelak. Nabi Muhammad sendiri di utus oleh Allah SWT, pertama-tama diperintahkan untuk mengajarkan Islam, lebih dahulu kepada keluarga sebelum masyarakat luas.

    Firman Allah dalam Al Qur’an Surat At Tahrim, ayat 6 berbunyi :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
    Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. AT-TAHRIM (66) : 6)

  2. Faktor sekolah terdiri atas metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin, keadaan gedung, metode mengajar, dan tugasbelajar
  3. Faktor masyarakat terdiri atas kegiatan siswa dalam masyarakat, media masa, temen bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.

            Prestasi belajar atau hasil belajar siswa perlu diketahui oleh siswa yang bersangkutan guna mengetahui seberapa besar kemajuan yang telah dicapai oleh siswa serta seberapa baik kualitas dari proses pembelajaran itu sendiri. Prestasi belajar siswa dapat ketahui melalui proses evaluasi pembelajaran.
Menurut Muhibbin Syah (2006 : 197) tujuan evaluasi adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah diketahui siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu. Sehingga guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah  laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
  2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan siswa dalam kelompok kelasnya. posisi yang dimaksud adalah mutu kemampuan yang dimiliki siswa di kelas jika dibandingkan dengan teman – temen lainnya.
  3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Maka dengan evaluasi guru dapat mengetahui usaha yang dilakukan siswa apakah efisien atau tidak dalam usaha mencapai prestasi.
  4. Untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mendayagunakan kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki untuk keperluan belajar dalam usaha mencapai prestasi belajar.
  5. Untuk mengetahui keefektifan metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar.

2.     Evaluasi Prestasi Belajar

gambar 5. evaluasi belajar
Evaluasi belajar ialah penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program. Padanan kata evaluasi adalah Assessment yang menurut Tardif (1989) berarti proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seorang siswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Selain kata evaluasi dan assessment,     ada pula kata lain yang sama arti dan relatif lebih mahsyur dalam dunia pendidikan yakni kata tes, ujian, dan ulangan.

3.     Tujuan dan Prinsip Evaluasi Belajar
      a.       Tujuan Evaluasi Belajar
  1. Untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.
  2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.
  3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.
  4. Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.
  5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar -mengajar.

          Berdasarkan UU Sikdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 58 ayat 1, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil peserta didik secara berkesinambungan.Evaluasi bukan hanya saat ulangan, namun pada setiap saat.
 
          b.      Prinsip-Prinsip Evaluasi Belajar
                Menurut Wiyono dan Tumardi (2003:8—10), prinsip-prinsip evaluasi pembelajaran adalah sebagai berikut.
         1)      Komprehensif
               Kegiatan evaluasi pembelajaran hendaknya dilaksanakan secara komprehensif, artinya  mencakup seluruh  aspek pribadi siswa, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Ditinjau dari pelaksanaannya, kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus dilakukan secara menyeluruh, baik evaluasi proses maupun hasil belajar siswa. 
         2)      Mengacu pada Tujuan
               Pelsakanaan evaluasi pembelajaran juga harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Tujuan merupakan kriteria utama yang menentukan arah kegiatan evaluasi. Sasaran kegiatan evaluasi adalah untuk melihat tercapai tidaknya pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Untuk itu, tujuan pembelajaran merupakan landasan utama yang dijadikan patokan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
         3)      Objektif
               Kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus dilaksanakan secara objektif. Artinya, evaluasi yang dilaksanakan memang benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada. Apabila hasil evaluasi pembelajaran yang diperoleh siswa tertentu adalah A, maka apabila dievaluasi oleh pendidik lain juga memperoleh nilai A. 
        4)      Kooperatif
              Dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran, juga harus bekerja sama dengan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan evaluasi. Pihak-pihak tersebut bisa guru, petugas bimbingan, orang tua, wali kelas, tenaga administrasi, kepala sekolah, atau bahkan siswa sendiri.
       5)      Kontinuitas
             Evaluasi pembelajaran juga harus dilaksanakan secara terus-menerus atau berkesinambungan selama proses pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi pembelajaran tidak hanya ditujukan pada hasil akhir yang dicapai, melainkan harus dilakukan sejak penyusunan rencana sampai tahap pelaporan akhir, bahkan sampai tindak lanjut. Dengan demikian, kegiatan evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses yang harus dilaksanakan secara kontinu.
       6)      Praktis, Ekonomis, dan Mendidik
             Prinsip selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran adalah prinsip praktis, ekonomis, dan bersifat mendidik. Evaluasi pembelajaran yang baik harus mudah dilaksanakan, rendah biaya, waktu dan tenaga, dan bisa mencapai tujuan secara optimal. Kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus bisa memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

       c.       Ragam Evaluasi Belajar
             1.      Pre test dan post test.
             2.      Evaluasi prasyarat.
             3.      Evaluasi diagnostik.
             4.      Evaluasi formatif.
             5.      Evaluasi sumatif.
             6.      UAN/UN.

       d.      Macam – Macam Evaluasi Belajar

       a)      Macam-macam evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :
       1. Evaluasi diagnostik
           Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa        beserta faktor-faktor penyebabnya.
       2. Evaluasi selektif
           Evaluasi selektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
     3.      Evaluasi penempatan
           Evaluasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai dengan karakteristik siswa. 
     4.      Evaluasi formatif
           Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan mengajar.
 
     5.      Evaluasi sumatif
           Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan bekajra siswa.

    b)      Macam-macam evaluasi berdasarkan sasaran :
    1.      Evaluasi konteks
          Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik mengenairasionaltujuan, latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan.
 
    2.      Evaluasi input
          Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya maupunstrategiyang digunakan untuk mencapai tujuan.
    3.      Evaluasi proses
          Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik mengenaikalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor pendukungdanfaktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan, dan sejenisnya.
   4.      Evaluasi hasil atau produk
         Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai sebagaidasaruntuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, dimodifikasi,ditingkatkanatau dihentikan.
   5.      Evaluasi outcom atau lulusan
         Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yakni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.

   c)      Macam-macam evalusi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran:
   1.      Evaluasi program pembelajaran
         Evaluasi yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek program pembelajaran yang lain.
   2.      Evaluasi proses pembelajaran
         Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, kemampuansiswadalammengikutiprosespembelajaran.
   3.      Evaluasi hasil pembelajaran
         Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.Jenis evaluasi berdasarkanobjekdansubjek evaluasi.

   d)     Berdasarkan objek :
   1.      Evaluasi input
         Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
   2.      Evaluasi tnsformasi
         Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi proses pembelajaran antaralainmateri, media, metode dan lain-lain.
 3.      Evaluasi output
       Evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.

 e)      Berdasarkan subjek :
 1.      Evaluasi internal
       Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
 2.      Evaluasi eksternal
       Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator,misalnya orangtua, masyarakat.

4.     Kelebihan dan Kelemahan Test Objektif dan Essay
A.    Test Objektif
gambar 6. test objektif
      Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essai (Arikunto, 2003:164).
      Kelebihan Test Objektif yaitu:
  1. Untuk menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu.
  2. Reabilitasnya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan test Essay, karena penilainnya bersifat   objektif.
  3. Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai.
  4. Objektif test tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.
  5. Validity test objektif lebih tinggi dari essay test, karena samplingnya lebih luas.

      Kelemahan Test Objektif yaitu :
  1. Murid sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
  2. Memang test sampling yang diajukan kepada murid- murid cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relative singkat untuk menjawabnya.
  3. Tidak biasa mengajak murid untuk berpikir taraf tinggi.
  4. Banyak memakan biaya, karena lembaran item- item test harus sebanyak jumlah pengikut test.

B.     Test Essay
gambar 7. test essay

   Tes Essay adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan siswa menyusun, mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. Tes essay ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan atau mengungkapkan suatu pendapat dalam bahasa sendiri.
      Subino, (1987:2) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat kebebasan jawaban yang dimungkinkan dalam tes bentuk uraian, butir-butir soal dalam ini dapat dibedakan atas butir-butir soal yang menuntut jawaban bebas. Butir-butir soal dengan jawaban terikat cenderung akan membatasi, baik isi maupun bentuk jawaban; sedangkan butir soal dengan jawaban bebas cenderung tidak membatasi, baik isi maupun jawaban.

      Kelebihan Test Essay yaitu:
  1. Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri.
  2. Murid tidak dapat menerka- nerka jawaban soal.
  3. Test ini sangat cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur dengan mempergunakan test objektif.
  4. Derajat ketepatan dan kebenaran murid dapat dilihat dari kalimat- kalimatnya.
  5. Jawaban diungkapakan dalam kata- kata dan kalimat sendiri, sehingga test ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat.
  6. Test ini digunakan dapat melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, dan Sukar dinilai secara tepat mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.

     Kelemahan Test Essay yaitu:
  1. Sukar dinilai secara tepat.
  2. Bahan yang diukur terlalu sedikit, sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum.
  3. Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional.
  4. Membutuhkan waktu memeriksa hasilnya.

          Kesimpulan
         Prestasi belajar adalah suatu hasil yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. Pada umumnya prestasi belajar dalam sekolah berbentuk pemberian nilai dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauh mana siswa telah menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan. 
           Prestasi siswa dapat diartikan hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar mengajar. Pengukurannyaada dua, yakni assessment dan measurement. Serta faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar ialah faktor intern (personal) dan faktor extern (lingkungan).


DAFTAR PUSTAKA
Asep Jihad dan Abdul Haris. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo
Wiyono, Bambang Budi, dan Tumardi. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Malang: Elang Mas.
Nawawi ,Hadari. (1998). Administrasi sekolah. Jakarta : Galio Indonesia
Hamalik, Oemar. (1995). Metode Belajar Dan Kesulitan -  Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito
Sardiman. (1996). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo.
Slameto (1998). Belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Syah , Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan.Bandung: PT. Remaja Rosda Karya
Tardif, Richard.1987. The Penguin Macquarie Dictionary of Australian Education. Australia:       Victoria: Penguin Books Ltd. 
Tohirin (2005). Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar