1. Pengertian
Prestasi Belajar
gambar 1. prestasi belajar
Kemampuan
intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh
prestasi, untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu
dilakukan evaluasi, tujuanya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa
setelah proses belajar mengajar berlangsung. Menurut Baharuddin dan Esa Nur
Wahyuni (2008 : 18) prestasi merupakan hasil belajar yang berasal dari infomasi
yang telah diperoleh pada tahap proses belajar sebelumnya.
Menurut Asep Jihat (2009:1) belajar adalah kegiatan berproses dan
merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan jenis dan jenjang
pendidikan. sedangkan menurut Sardiman (1996:22) belajar merupakan tingkah laku
atau penampilan dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati,
mendengarkan, meniru dan sebagainya. Prestasi belajar yang sering disebut
juga hasil belajar yang artinya apa yang telah dicapai oleh suatu siswa setelah
melakukan kegiatan balajar yang mencakup aspek kongnitif, afektif dan psikomotor
(Tohirin, 2005 : 151).
Belajar adalah suatu proses atau usaha untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan. Belajar dapat diartikan berusaha atau berlatih
supaya mendapat kepandaian. Belajar adalah merupakan dasar untuk memahami
perilaku. Studi psikologi tentang masalah fundamental tentang perkembangan
emosi, motivasi, perilaku sosial, dan kepribadian.
Hidup di dunia
maupun bekal di akhirat nanti harus berilmu, sebagaimana sabda Rasulullah saw
yang berbunyi:
مَن أَرَادَ الدنيَا فَعَلَيهِ
بِالعِلم وَمَن أَرَادَ الاخِرَةَ فَعليهَ بِالعلمَ وَمَن أَرَادَهُما فَعليهَ
بالعلمِ
Artinya:
Barangsiapa
yang menginginkan (kebahagian) hidup di dunia maka hendaklah ia berilmu, dan
barangsiapa yang meninginkan (kebahagian) hidup di akhirat maka hendaklah ia
berilmu, dan barangsiapa yang menhendaki kedua-keduanya maka hendaklah ia
berilmu.
Allah
berfirman dalam surat Al-Zumar ayat 9 yang berbunyi :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah :
apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang berakallah yang mampu menerima
pelajaran”.
Prestasi
siswa dapat diartikan hasil yang diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang
telah dilakukan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan
dari kegiatan belajar karena kegiatan belajar merupakan proses sedangkan
prestasi merupakan hasil dari proses belajar mengajar. Menurut Hadari Nawawi
(1998 :100) Prestasi belajar adalah tingkatan keberhasilan dalam mempelajari
materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh
dari hasil tes.
Dalam psikologi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. Maupun faktor kematangan fisik maupun psikis.
Dalam prestasi belajar ada grafik yang menunjukan tentang prestasi belajar. bisa dilihat, grafik dibawah ini adalah grafik tentang prestasi belajar yang mana di dominasi dengan cara mendengarkan dan memperhatikan presentasi atau penjelasan guru dalam segi keaktifan belajarnya.
Dalam psikologi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki. Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi dan penyesuaian diri. Maupun faktor kematangan fisik maupun psikis.
Dalam prestasi belajar ada grafik yang menunjukan tentang prestasi belajar. bisa dilihat, grafik dibawah ini adalah grafik tentang prestasi belajar yang mana di dominasi dengan cara mendengarkan dan memperhatikan presentasi atau penjelasan guru dalam segi keaktifan belajarnya.
grafik 1. prestasi belajar
Menurut
Oemar Hamalik (2003:146) untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar siswa
maka perlu diadakan pengukuran secara :
- Penilaian (assessment)adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur prestasi belajar (achievement) siswa sebagai hasil dari suatu program intruksional.
- Pengukuran (measurement) berkenaan dengan pengumpulan data deskriptif tentang produk siswa dan atau tingkah laku siswa, dan hubungannya dengan standar prestasi atau norma.
Berdasarkan
pengertian diatas maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan
tingkat kemanusiaan yang dimiliki oleh siswa dalam menerima, menolak dan
menilai informasi – informasi sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam
mempelajari materi pelajaran, yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport
setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Tinggi rendahnya
prestasi belajar siswa dapat diketahui
setelah diadakan penilaian hasil belajar.
Ada beberapa tipe prestasi belajar, yaitu :
Ada beberapa tipe prestasi belajar, yaitu :
gambar 2. tipe prestasi belajar
1. Tipe prestasi belajar
bidang kognitif (Ranah Cipta)
gambar 3. tipe belajar kognitif
Tipe prestasi belajar bidang kognitif mencakup :
a)
Pengamatan: dapat menunjukkan, membandingkan dan menghubungkan
b)
Ingatan: dapat menyebutkan dan menunjukkan kembali
c)
Pemahaman: dapat menjelaskan dan mendefinisikan dengan lisan sendiri
d)
Penerapan: dapat memberikan contoh dan menggunakan secara tepat
e)
Analisis (pemeriksaan dan pemilahan secara teliti): dapat menguraikan dan
mengklasifikasi/memilah-milah
f) Sintesis (membuat paduan baru dan utuh): dapat menghubungkan, menyimpulkan
dan menggeneralisasikan (membuat prinsip umum).
2. Tipe prestasi belajar bidang afektif ( Ranah Rasa)
![]() |
| gambar 4. tipe belajar afektif |
Tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe prestasi belajar mencakup
:
a) Receiving atau attending, yakni
kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang dari siswa,
baik dalam bentuk masalah, situasi dan gejala.
b) Responding atau jawaban, yakni
reaksi yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar
c) Valuing (penilaian), yakni
berkenaan dengan penilaian dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus
d) Organisasi, yakni pengembangan
nilai ke dalam suatu sistem organisasi, termasuk menentukan hubungan suatu
nilai yang telah dimilikinya.
e) Karakteristik atau interalisasi nilai,
yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan perilakunya.
3. Tipe prestasi belajar bidang psikomotor (Ranah Karsa)
Tipe prestasi belajar bidang
psikomotor tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan
bertindak seseorang. Adapun tingkat keterampilan itu meliputi :
a) Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang sering tidak disadari
karena sudah merupakan kebiasaan)
b) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar
c) Kemampuan perspektual termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan
auditif motorik dan lain-lain
d) Kemampuan di bidang fisik seperti kekuatan, keharmonisan dan ketepatan
e) Gerakan-gerakan yang berkaitan dengan skill, mulai dari keterampilan
sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks.
f) Kemampuan yang berkenaan dengan non decursive komunikasi seperti
gerakan ekspresf dan interpretatif.
Menurut
Slameto (1998 : 56) mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar banyak jenisnya tetapi dapat digolongkan menjadi dua yaitu
faktor interen dan faktor eksteren. Secara rinci faktor tersebut adalah sebagai
berikut :
1)
Faktor intern meliputi :
- Faktor jasmani yang terdiri atas faktor kesehatan dan cacat tubuh
- Faktor psikologi yang terdiri atas intelegensi, perhatian, minat, bakat,motif, kematangan, dan kelemahan.
2)
Faktor ekstern meliputi :
- Faktor keluarga terdiri atas cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.
keluarga adalah suatu sistem pendidikan yang pertama dan utama. Sebab di dalam keluarga inilah tempat meletakan dasar-dasar kepribadian anak didik. Dalam ajaran Islam dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW., sebagaimana sabdanya yang berbunyi :
ﻪﻧﺍﺮﺼﻧﻳﻮﺍ ﻪﻧ ﺍﺪﻭﻬﻳ ﻩﺍﻮﺒﺎﻔ ﺓﺭﻃﻔﻠﺍﻰﻠﻋﺪﻟﻭﻳﻻﺍﺪﻭﻟﻮﻣﻦﻤﺎﻤ ﻪﻧﺎﺴﺤﻤﻳﻭﺍArtinya : “Setiap anak dilahirkan atas fitrah, sehingga ia lancar lisannya (berbahasa) maka kedua orang tuanyalahan yg menjadikan ia kafir Yahudi atau Nasrani, atau Majusi”. (HR. Bukhari Muslim). Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa pendidikan keluarga memegang peranan penting dalam membentuk kepribadian anak didik. Moh. Abdai Rathomy menegaskan : kedua orang tua itu mempunyai kewajiban untuk mendidik dan mengajar putra-putrinya. (1973 : 283), karena : pendidikan keluarga sebagai sumber dan dasar lingkungan yang lainnya. (Ag. Soejono, 1980 : 93).Mengingat sangat pentingnya pendidikan keluarga, maka Islam memandang keluarga itu sebagai lembaga hidup manusia yang menentukan baik buruknya dan celaka ataupun bahagianya di dunia dan di akhirat kelak. Nabi Muhammad sendiri di utus oleh Allah SWT, pertama-tama diperintahkan untuk mengajarkan Islam, lebih dahulu kepada keluarga sebelum masyarakat luas.
Firman Allah dalam Al Qur’an Surat At Tahrim, ayat 6 berbunyi :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. AT-TAHRIM (66) : 6) - Faktor sekolah terdiri atas metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, disiplin, keadaan gedung, metode mengajar, dan tugasbelajar
- Faktor masyarakat terdiri atas kegiatan siswa dalam masyarakat, media masa, temen bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.
Prestasi belajar atau hasil belajar
siswa perlu diketahui oleh siswa yang bersangkutan guna mengetahui seberapa
besar kemajuan yang telah dicapai oleh siswa serta seberapa baik kualitas dari
proses pembelajaran itu sendiri. Prestasi belajar siswa dapat ketahui melalui
proses evaluasi pembelajaran.
Menurut Muhibbin Syah (2006 : 197)
tujuan evaluasi adalah sebagai berikut :
- Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah diketahui siswa dalam kurun waktu proses belajar tertentu. Sehingga guru dapat mengetahui kemajuan perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
- Untuk mengetahui posisi atau kedudukan siswa dalam kelompok kelasnya. posisi yang dimaksud adalah mutu kemampuan yang dimiliki siswa di kelas jika dibandingkan dengan teman – temen lainnya.
- Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar. Maka dengan evaluasi guru dapat mengetahui usaha yang dilakukan siswa apakah efisien atau tidak dalam usaha mencapai prestasi.
- Untuk mengetahui sejauh mana siswa telah mendayagunakan kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki untuk keperluan belajar dalam usaha mencapai prestasi belajar.
- Untuk mengetahui keefektifan metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar mengajar.
2.
Evaluasi
Prestasi Belajar
![]() |
| gambar 5. evaluasi belajar |
3. Tujuan dan Prinsip Evaluasi Belajar
a.
Tujuan Evaluasi Belajar
- Untuk mengetahui tingkat kemampuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.
- Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.
- Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan siswa dalam belajar.
- Untuk mengetahui segala upaya siswa dalam mendayagunakan kapasitas kognitifnya untuk keperluan belajar.
- Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan guru dalam proses belajar -mengajar.
Berdasarkan UU Sikdiknas No. 20 Tahun
2003 Pasal 58 ayat 1, evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan untuk
memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil peserta didik secara
berkesinambungan.Evaluasi bukan hanya saat ulangan, namun pada setiap saat.
b.
Prinsip-Prinsip Evaluasi Belajar
Menurut
Wiyono dan Tumardi (2003:8—10), prinsip-prinsip evaluasi pembelajaran adalah
sebagai berikut.
1)
Komprehensif
Kegiatan
evaluasi pembelajaran hendaknya dilaksanakan secara komprehensif, artinya
mencakup seluruh aspek pribadi siswa, baik aspek kognitif, afektif, maupun
psikomotorik. Ditinjau dari pelaksanaannya, kegiatan evaluasi pembelajaran juga
harus dilakukan secara menyeluruh, baik evaluasi proses maupun hasil belajar
siswa.
2)
Mengacu pada Tujuan
Pelsakanaan
evaluasi pembelajaran juga harus mengacu pada tujuan pembelajaran yang
ditetapkan. Tujuan merupakan kriteria utama yang menentukan arah kegiatan
evaluasi. Sasaran kegiatan evaluasi adalah untuk melihat tercapai tidaknya
pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Untuk itu, tujuan pembelajaran merupakan
landasan utama yang dijadikan patokan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran.
3)
Objektif
Kegiatan
evaluasi pembelajaran juga harus dilaksanakan secara objektif. Artinya,
evaluasi yang dilaksanakan memang benar-benar sesuai dengan kenyataan yang ada.
Apabila hasil evaluasi pembelajaran yang diperoleh siswa tertentu adalah A,
maka apabila dievaluasi oleh pendidik lain juga memperoleh nilai A.
4)
Kooperatif
Dalam
melaksanakan evaluasi pembelajaran, juga harus bekerja sama dengan semua pihak
yang terlibat dalam kegiatan evaluasi. Pihak-pihak tersebut bisa guru, petugas
bimbingan, orang tua, wali kelas, tenaga administrasi, kepala sekolah, atau
bahkan siswa sendiri.
5)
Kontinuitas
Evaluasi
pembelajaran juga harus dilaksanakan secara terus-menerus atau berkesinambungan
selama proses pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi pembelajaran tidak hanya
ditujukan pada hasil akhir yang dicapai, melainkan harus dilakukan sejak
penyusunan rencana sampai tahap pelaporan akhir, bahkan sampai tindak lanjut.
Dengan demikian, kegiatan evaluasi pembelajaran merupakan suatu proses yang
harus dilaksanakan secara kontinu.
6)
Praktis, Ekonomis, dan Mendidik
Prinsip
selanjutnya yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran
adalah prinsip praktis, ekonomis, dan bersifat mendidik. Evaluasi pembelajaran
yang baik harus mudah dilaksanakan, rendah biaya, waktu dan tenaga, dan bisa
mencapai tujuan secara optimal. Kegiatan evaluasi pembelajaran juga harus bisa
memberikan motivasi kepada siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
c. Ragam
Evaluasi Belajar
1. Pre
test dan post test.
2. Evaluasi
prasyarat.
3. Evaluasi
diagnostik.
4. Evaluasi
formatif.
5. Evaluasi
sumatif.
6. UAN/UN.
a) Macam-macam evaluasi berdasarkan
tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :
1. Evaluasi diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi
yang di tujukan untuk menelaah kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor
penyebabnya.
2. Evaluasi selektif
Evaluasi selektif adalah evaluasi
yang di gunakan untuk memilih siwa yang paling tepat sesuai dengan kriteria
program kegiatan tertentu.
3. Evaluasi penempatan
Evaluasi penempatan adalah evaluasi
yang digunakan untuk menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang
sesuai dengan karakteristik siswa.
4. Evaluasi formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi
yang dilaksanakan untuk memperbaiki dan meningkatan proses belajar dan
mengajar.
5. Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi
yang dilakukan untuk menentukan hasil dan kemajuan bekajra siswa.
b) Macam-macam evaluasi berdasarkan
sasaran :
1. Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk
mengukur konteks program baik mengenairasionaltujuan, latar belakang program,
maupun kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan.
2. Evaluasi input
Evaluasi yang diarahkan untuk
mengetahui input baik sumber daya maupunstrategiyang digunakan untuk mencapai
tujuan.
3. Evaluasi proses
Evaluasi yang di tujukan untuk
melihat proses pelaksanaan, baik mengenaikalancaran proses, kesesuaian dengan
rencana, faktor pendukungdanfaktor hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan,
dan sejenisnya.
4. Evaluasi hasil atau produk
Evaluasi yang diarahkan untuk
melihat hasil program yang dicapai sebagaidasaruntuk menentukan keputusan akhir,
diperbaiki, dimodifikasi,ditingkatkanatau dihentikan.
5. Evaluasi outcom atau lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk
melihat hasil belajar siswa lebih lanjut, yakni evaluasi lulusan setelah terjun
ke masyarakat.
c) Macam-macam evalusi berdasarkan
lingkup kegiatan pembelajaran:
1. Evaluasi program pembelajaran
Evaluasi yang mencakup terhadap
tujuan pembelajaran, isi program pembelajaran, strategi belajar mengajar,
aspe-aspek program pembelajaran yang lain.
2. Evaluasi proses pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian
antara peoses pembelajaran dengan garis-garis besar program pembelajaran yang
di tetapkan, kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran,
kemampuansiswadalammengikutiprosespembelajaran.
3. Evaluasi hasil pembelajaran
Evaluasi hasil belajar mencakup
tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik
umum maupun khusus, ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.Jenis
evaluasi berdasarkanobjekdansubjek evaluasi.
d) Berdasarkan objek :
1. Evaluasi input
Evaluasi terhadap siswa mencakup
kemampuan kepribadian, sikap, keyakinan.
2. Evaluasi tnsformasi
Evaluasi terhadap unsur-unsur transformasi
proses pembelajaran antaralainmateri, media, metode dan lain-lain.
3. Evaluasi output
Evaluasi terhadap lulusan yang
mengacu pada ketercapaian hasil pembelajaran.
e) Berdasarkan subjek :
1. Evaluasi internal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang
dalam sekolah sebagai evaluator, misalnya guru.
2. Evaluasi eksternal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang
luar sekolah sebagai evaluator,misalnya orangtua, masyarakat.
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat
dilakukan secara objektif. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi
kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essai (Arikunto, 2003:164).
Kelebihan Test Objektif yaitu:
- Untuk menjawab test objektif tidak banyak memakai waktu.
- Reabilitasnya lebih tinggi kalau di bandingkan dengan test Essay, karena penilainnya bersifat objektif.
- Pemberian nilai dan cara menilai test objektif lebih cepat dan mudah karena tidak menuntut keahlian khusus dari pada si pemberi nilai.
- Objektif test tidak memperdulikan penguasaan bahasa, sehingga mudah dilaksanakan.
- Validity test objektif lebih tinggi dari essay test, karena samplingnya lebih luas.
Kelemahan Test Objektif yaitu :
- Murid sering menerka-nerka dalam memberikan jawaban, karena mereka belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
- Memang test sampling yang diajukan kepada murid- murid cukup banyak, dan hanya membutuhkan waktu yang relative singkat untuk menjawabnya.
- Tidak biasa mengajak murid untuk berpikir taraf tinggi.
- Banyak memakan biaya, karena lembaran item- item test harus sebanyak jumlah pengikut test.
Tes Essay adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan
terstruktur dan siswa menyusun, mengorganisasikan sendiri jawaban tiap
pertanyaan itu dengan bahasa sendiri. Tes essay ini sangat bermanfaat untuk
mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan atau mengungkapkan suatu pendapat
dalam bahasa sendiri.
Subino,
(1987:2) menyatakan bahwa berdasarkan tingkat kebebasan jawaban yang
dimungkinkan dalam tes bentuk uraian, butir-butir soal dalam ini dapat
dibedakan atas butir-butir soal yang menuntut jawaban bebas. Butir-butir soal
dengan jawaban terikat cenderung akan membatasi, baik isi maupun bentuk
jawaban; sedangkan butir soal dengan jawaban bebas cenderung tidak membatasi,
baik isi maupun jawaban.
Kelebihan Test Essay yaitu:
- Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri.
- Murid tidak dapat menerka- nerka jawaban soal.
- Test ini sangat cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur dengan mempergunakan test objektif.
- Derajat ketepatan dan kebenaran murid dapat dilihat dari kalimat- kalimatnya.
- Jawaban diungkapakan dalam kata- kata dan kalimat sendiri, sehingga test ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan cepat.
- Test ini digunakan dapat melatih peserta didik untuk memilih fakta yang relevan dengan persoalan, dan Sukar dinilai secara tepat mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.
Kelemahan Test Essay yaitu:
- Sukar dinilai secara tepat.
- Bahan yang diukur terlalu sedikit, sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum.
- Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional.
- Membutuhkan waktu memeriksa hasilnya.
Kesimpulan
Prestasi belajar adalah suatu hasil
yang dicapai oleh siswa selama berlangsungnya proses belajar mengajar dalam
jangka waktu tertentu. Pada umumnya prestasi belajar dalam sekolah berbentuk
pemberian nilai dari guru kepada siswa sebagai indikasi sejauh mana siswa telah
menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan.
Prestasi siswa dapat diartikan hasil yang diperoleh
karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Prestasi belajar
merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar karena kegiatan
belajar merupakan proses sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar
mengajar. Pengukurannyaada dua, yakni
assessment dan measurement. Serta faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar ialah faktor intern (personal) dan faktor extern (lingkungan).
DAFTAR PUSTAKA
Asep Jihad dan Abdul Haris. (2009). Evaluasi
Pembelajaran. Yogyakarta : Multi Pressindo
Wiyono,
Bambang Budi, dan Tumardi. 2003. Evaluasi Pembelajaran. Malang: Elang
Mas.
Nawawi ,Hadari. (1998). Administrasi
sekolah. Jakarta : Galio Indonesia
Hamalik, Oemar. (1995). Metode
Belajar Dan Kesulitan - Kesulitan
Belajar. Bandung : Tarsito
Sardiman.
(1996). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo.
Slameto (1998). Belajar dan
factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : Rineka Cipta
Syah , Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan.Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya
Tardif, Richard.1987. The Penguin Macquarie Dictionary of Australian
Education. Australia: Victoria: Penguin Books Ltd.
Tohirin (2005). Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Tohirin (2005). Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo








Tidak ada komentar:
Posting Komentar