- Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus
Menurut Depdiknas, anak berkebutuhan
khusus adalah siswa (di bawah 18 tahun) yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses
pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau
memiliki kecerdasan dan bakat istimewa.
Ada siswa dengan layanan pendidikan
khusus, yaitu siswa yang ada di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat
adat yang terpencil, dan atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi. Anak-anak berkebutuhan khusus meliputi kelompok di
bawah ini.
1.Tuna
netra
Tunanetra/ blindness adalah gangguan daya penglihatan meskipun
telah diberi pertolongan dengan alat-alat bantu. Menurut Tes Ketajaman
penglihatan Snellen:
Normal
= 20/20 =
100%
Buta= 20/200
= 20,0 % atau kurang
Karakteristik Tunanetra
- Tidak dapat melihat (tunanetra total)
- Kerusakan nyata pada kedua bola mata
- Sering meraba-raba, tersandung waktu berjalan dan mendapat kesulitan mengambil benda didekatnya.
- Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/seperti bersisik/kering
- Kelainan pertumbuhan pada kedua mata
- Peradangan heba tpada kedua mata
- Mata bergoyang terus
2. Tuna
rungu
Hilangnya fungsi pendengaran baik pada taraf ringan, sedang,
dan berat.Tipe-tipe tunarungu :
- Kehilangan pendengaran (suara tidak tertangkap telinga).
- Terganggunya proses mendengar (interpretasi yang salah terhadap bunyi)
Karakteristik Tuna rungu
- Tidak mendengar
- Tidak ada/terlambat dalam perkembangan bahasa
- Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi
- Tidak/kurang tanggap terhadap suara atau bila diajak bicara
- Ucapan kata tidak jelas
- Memiliki kualitas suara yang aneh/ biasanya tinggi melengking
- Sering memiringkan kepala dalam usaha untuk mendengar
- Banyak perhatian terhadap getaran
- Keluar nanah dari kedua telinga
- Ada kelainan organis pada telinga (lubang tertutup, telinga kecil dll)
3. Tuna
wicara
4. Tuna
grahita sedang dan ringan
5. Tuna
daksa ringan dan sedang
Kelainan atau cacat yang menetap
pada alat gerak (tulang, sendi, otot) sedemikian rupa. Rusak atau tidak
mampunya organ fisik untuk bergerak sebagaimana fungsinya. Bisa berasal dari
bawaan lahir atau kecelakaan, jenisnya : akut atau kronis (terus menerus),
episodik ataupun progressif (kambuhan). Karakteeristik tuna daksa :
- Anggota-anggota gerak kaku/lemah/lumpuh
- Kesulitan dalam gerakan-gerakan (kaku/tidak lentur/tak terkendali)
- Ada bagian-bagian anggota gerak yang tak lengkap/tak sempurna/lebih kecil dari biasa
- Ada cacat pada alat gerak
- Jari-jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam
- Kesulitan waktu berdiri, berjalan atau duduk dan menunjukkan sikap tubuh yang tidak normal
- Gerakan-gerakan seperti hyperaktif/ tidak dapat tenang
7. Autisme,
syndrom asperger
8. Kesulitan belajar, lambat belajar (ADHD, disgrafia, dislexia, diskalkulia, dispraxia)
8. Kesulitan belajar, lambat belajar (ADHD, disgrafia, dislexia, diskalkulia, dispraxia)
9. Tuna
ganda
10. Gifted (IQ
> 125) dan talented (bakat istimewa) serta indigo
klasifikasi :
a. Bagian
A adalah sebutan untuk kelompok tuna netra
b. Bagian
B adalah sebutan untuk kelompok tunarungu
c. Bagian
C adalah sebutan untuk kelompok tunagrahita
d. Bagian
D adalah sebutan untuk kelompok tunadaksa
e. Bagian
E adalah sebutan untuk kelompok tunalaras
f. Bagian
F adalah sebutan untuk kelompok anak dengan kemampuan diatas rata-rata/superior
g. Bagian
G adalah sebutan untuk kelompok tunaganda
Jenis Anak Berkebutuhan Khusus
a. Kelainan
Fisik
-
Kelainan tubuh (tunadaksa)
-
Kelainan indra penglihatan (tunanetra)
-
Kelaianan pendengaran (tunarungu)
-
Kelaianan berbicara (tunawicara)
b. Kelainan
mental
-
Mental tinggi
-
Mental rendah
-
Berkesulitan belajar spesifik
c. Kelaianan
emosi
-
Gangguan konsentrasi (ADD/Attention
Deficit Disolder)
-
Gangguan hiperaktif (ADHD/ Attention Ddeficit
Hiperactivity Disolder)
Permasalahan yang banyak muncul
akhir-akhir ini adalah tentang autisme. Autisme merupakan gangguan perkembangan
sel-sel saraf yang tanpa diketahui penyebabnya. James Coplan (2000) menyatakan
bahwa autisme muncul tanpa membedakan usia, tingkat kecerdasan, dan status
sosial. Autisme bukanlah merupakan penyakit yang menular akan tetapi bisa
terjadi pada siapa saja. Autis dipandang sebagai sekumpulan gejala klinis atau
sindrom yang dilatarbelakangi oleh berbagi faktor unik dan saling berkaitan
satu sama lain. Perbandingan jumlah penyandang autis antara pria dan wanita
sekitar 4 : 1. Gangguan spektrum autisme
meliputi masalah sosial, bahasa, dan fungsi perilaku.
Autisme bervariasi dari ekspresi yang minimal (hipoaktif) hingga sangat
ekspresif (hiperaktif)
ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder). ADHD
dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperak-tivitas.
Gejala anak dengan ADHD sekilas mirip dengan anak autisma, tetapi memiliki
kemampuan komunikasi dan interaksi sosial yang jauh lebih baik.
Gejala ADHD menurut Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorder, terdiri dari tiga gejala, yaitu:
Inatensitivitas atau
tidak ada perhatian atau tidak menyimak, terdiri dari:
a. Gagal menyimak hal yang rinci.
b. Kesulitan bertahan pada satu aktivitas.
c. Tidak mendengarkan ketika diajak berbicara.
d. Sering tidak mengikuti instruksi.
e. Kesulitan mengatur jadwal tugas dan kegiatan.
f. Sering menghindar dari tugas yang memerlukan perhatian
lama.
g. Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk tugas.
h. Sering beralih perhatian oleh stimulus dari luar.
i. Sering pelupa dalam kegiatan sehari-hari.
Impulsivitas atau
tidak sabaran, terdiri dari:
a. Sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.
b. Sering mengalami kesulitan menunggu giliran.
c. Sering memotong atau menyela orang lain.
d. Semberono, melakukan kegiatan berbahaya tanpa pikir
panjang.
e. Sering berteriak di kelas.
f. Tidak sabaran.
g. Usil, suka mengganggu anak lain.
h. Permintaannya harus segera dipenuhi.
i. Mudah frustrasi dan putus asa.
Hiperaktivitas atau
tidak bisa diam, terdiri dari:
a. Sering menggerakkan kaki atau
tangan dan sering menggeliat.
b. Sering meninggalkan tempat duduk di kelas.
c. Sering berlari dan memanjat.
d. Mengalami kesulitan dalam
melakukan kegiatan dengan tenang.
e. Sering bergerak seolah diatur
oleh motor penggerak.
f. Sering berbicara berlebihan.
g. Sekitar 50% dari anak ADHD
diikuti gangguan psikiatrik lainnya, seperti
gangguan belajar
spesifik (disleksia), keterlambatan bicara, matematik yang
lemah, gangguan tics (gerakan bagian tubuh berulang-ulang
misalnya mata), oppositional disorder (perilaku menolak),
dan conduct disorder (perilaku antisosial, agresif).
1. Anak Gifted
Anak gifted adalah
anak dengan intelegensi yang super atau genius, namun memiliki gejala-gejala
perilaku yang mirip dengan autisma. Anakgifted memiliki intelegensi
jauh di atas normal, dan perilaku mereka seringkali terkesan aneh. Biasanya
kegeniusan anak gifted hanya pada suatu bidang tertentu, dan
tidak pada semua disiplin ilmu atau keterampilan.
2. Disleksia (Dyslexia)
Disleksia dikenal juga sebagai
SPLD (Specific Learning Difficulty).Disleksia merupakan suatu
kondisi yang terdapat di dalam segala tingkatkemampuan dan menyebabkan
kesulitan yang terus-menerus dalammemperoleh kemampuan membaca dan menulis. Masalah
yang dihadapi mencakup penyusunan urutan, pengorganisasian ucapan
dan tulisan, pengendalian motorik halus, dan kesulitan mengarahkan
gerak. Anak disleksia juga mengalami masalah dengan bunyi yang
membentuk kata-kata, maupun kesulitan dalam interpretasi kata,
persepsi, penyusunan urutan, menulis dan mengeja.
3. Diskalkulia (Dyscalculia)
Diskalkulia berhubungan dengan
kekurangan di dalam belajar matematika. Masalah yang dihadapi mencakup
kesulitan untuk mengerti dan mengingat konsep angka dan hubungan angka,
kesulitan dalam belajar dan menerapkan pemahaman masalah kata. Diskalkulia
bersifat perkembangan, artinya siswa selalu mengalami kesulitan dalam mata
pelajaran tersebut. Dengan kata lain, kemampuan aritmatika siswa sebelumnya
berada pada tingkat yang lebih tinggi.
4. Dispraksia (Dyspraxia)
Dispraksia berhubungan dengan
kemampuan untuk mengatur gerak. Masalah yang dihadapi mencakup masalah dengan bahasa,
baik lisan maupun tertulis.
Ciri-ciri dispraksia, yaitu:
- Kesulitan dengan keterampilan motorik halus dan motorik kasar.
- Kepekaan untuk menyentuh.
- Memori jangka pendek yang kurang.
- Tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana meskipun mereka tahu jawabannya.
- Masalah berbicara, lambatnya belajar untuk berbicara atau berbicara yang tidak terpadu.
- Terlibat dalam perilaku ‘tidak dewasa’ dan dapat menunjukkan tingkah laku marah-marah.
- Mencapai prestasi lebih baik atas dasar satu-satu.
5. Disgrafia (Dysgrafia)
Kelainan neurologis, ini menghambat
kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat
memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan
gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan
ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan
angka.
Ciri-ciri disgrafia:
- Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya.
- Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
- Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
- Anak tampak harus berusaha keras saat mengkomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pengetahuannya lewat tulisan.
- Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap.
- Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis.
- Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional.
- Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.
6. Sindrom Asperger
Sindrom asperger sering
disebut bentuk autisme yang lebih tinggi. Orang-orang yang asperger cenderung
memiliki intelegensi rata-rata dan sering memiliki keterampilan berkomunikasi
yang lebih baik daripada anak-anak autis.
Ciri-ciri asperger:
- Berpikir lateral.
- Obsesi dengan topik-topik tertentu yang menyebabkan pengetahuan luar biasa di dalam suatu bidang.
- Ingatan luar biasa.
- Kesulitan dengan interaksi sosial.
- Nada bicara mononton.
- Koordinasi motorik yang kurang.
- Kesulitan untuk mengerti dan mengapresiasi dan perspektif orang lain.
- Kesulitan dalam membaca isyarat-isyarat sosial.
3. Permasalahan-Permasalahan Anak
Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus mempunyai
masalah yang berbeda-beda. Namun, secara umum dapat dicirikan seperti berikut
ini :
- Proses pengolahan ilmu di otak relatif kurang
- Yang berinteligensi tinggi akan menghadapi kesulitan dalam pembelajaran normal, suka merasa bosan dan cenderung main-main sendiri
- Dalam perihal interaksi sosial kurang kontak mata, represif, sulit berinteraksdengan teman dan guru, tak bisa berempati, memahami maksud orang lain, interaksi, kesulitan menyampaikan keinginan, takut, dan cenderung menghindari orang lain dan sulit memahami isyarat verbal-nonverbal
- Kerapkali kurang tangkas dan keseimbangan dalam motorik kasar dan halus
- Kurang terkoordinir dalam melaksanakan salah satu tugas
- Dalam gerakan sensorik, cenderung hiporeaktif (cuek) dan hiperaktif (enggan belajar), fokus hanya pada detail tertentu/sempit/tak menyeluruh, dan mempunyai perhatian yang obsesif
- Mempunyai minat terbatas, tak patuh, monoton, tantrum, mengganggu, agresif, impulsif, stimulasi diri, takut-cemas, kerap menangis
- Ketika belajar, kerap melakukan kesalahan sensory memory karena memori mereka hanya pendek sekali jaraknya, mudah lupa, fakta tersimpan, tetapi tidak dalam satu kerangka konteks yang terjadi
- Sulit meniru aksi orang lain, namun bisa meniru kata-kata tetapi tidak memahami
- Mempunyai keterbatasan komunikasi, gangguan bahasa verbal-nonverbal, kesulitan menyampaikan keinginan, dan penggunaan bahasa repetitive (pengulangan)
- Mengalami kesulitan mengurutkan aktivitas dan kurang kreatif
- Kesulitan mempertahankan perhatian, mudah buyar, dan kurang kontrol diri.
Faktor penyebab anak Berkebutuhan khusus
a. Sebelum
kelahiran
-
Infeksi kehamilan
-
Gangguan genetika : kelaianan kromosom,
transformasi
-
Usia ibu hamil (highrisk group)
-
Keracunan saat hamil
-
Lahir prematur
b. Selama
proses kelahiran
-
Proses kelahiran lama (anoxia),
prematur, kekurangan oksigen
-
Kelahiran dengana alat bantu : vacum
-
Kelhiran terlalu lama : lebih dari 40 minggu
c. Setelah
kelahiran
-
Penyakit infeksi bakteri (TBC, Virus)
-
Kekurangan zat makanan (gizi, nutrisi)
-
Kecelakaan
-
Keracunan
4. Deteksi Dini
- Deteksi dini penyimpnagan kebutuhan, yakni untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau buruk
- Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, dan gangguan daya dengar
- Deteksi dini penyimpngan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperactivitas



Tidak ada komentar:
Posting Komentar