KONSEP DIRI
1. Pengertian Konsep diri
Menurut Baron
dan Byrne mengatakan konsep diri merupakan sekumpulan fungsi yang kompleks yang
berbeda yang dipegang oleh seseorang tentang dirinya. Menurut William D. Broks mendefinisikan konsep diri adalah pandangan dan
perasaan tentang kita, yang bersifat psikologi, sosial, dan fisis.
Menurut Sulaeman, konsep diri adalah keseluruhan ide-ide dan sikap-sikap
seseorang sebagai apa dan siapa dia.
Suryabrata menyatakan konsep diri mempunyai empat aspek, yaitu bagaimana orang
mengamati dirinya sendiri, bagaimana orang berpikir tentang dirinya sendiri,
bagaimana orang menilai dirinya sendiri, bagaimana berusaha dengan berbagai
cara untuk menyampaikan dan mempertahankan diri.
Calhoun dan Acocela (1990) menyatakan konsep diri adalah gambaran mental
individu yang terdiri dari pengetahuannya
tentang diri sendiri, pengharapan bagi diri sendiri, dan penilaian
terhadap diri sendiri.
Konsep diri di dalam Islam, Allah SWT berfirman dalam Q.S. At-Taghabun ayat 16
yang artinya :
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut
kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik
untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka
mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Dari uraian di
atas dapat disimpulkan pengertian konsep diri adalah cara individu memandang
dirinya secara utuh, baik fisikal, emosional, intelektual, sosial, dan
spiritual terhadap masyarakat, lingkungan maupun terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
Kerangka Menurut Stuart
dan Sudeen ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri.
Faktor-faktor tersebut terdiri dari teori perkembangan Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat ) dan Self Perception (persepsi diri sendiri).
a.
Teori Perkembangan
Konsep diri berkembang secara bertahap sejak lahir seperti mulai mengenal
dan membedakan dirinya dan orang lain. Dalam melakukan kegiatannya memiliki
batasan diri yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan
eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan tubuh, nama
panggilan, pengalaman budaya dan hubungan interpersonal, kemampuan pada area
tertentu yang dinilai oleh diri sendiri atau masyarakat serta aktualisasi diri
dengan merealisasi potensi yang nyata.
b.
Significant Other (Orang Terpenting atau Terdekat)
Konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan orang lain,
belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara pandangan diri
merupakan interpretasi diri pandangan orang lain terhadap diri, anak sangat
dipengaruhi orang yang dekat, remaja dipengaruhi oleh orang lain yang dekat
dengan dirinya, pengaruh orang dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup,
pengaruh budaya dan sosialisasi.
c.
Self Perception (Persepsi Diri Sendiri)
Yaitu persepsi
individu terhadap diri sendiri dan penilaiannya, serta persepsi individu
terhadap pengalamannya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat dibentuk
melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga konsep merupakan
aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu. Individu dengan konsep
diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif yang dapat berfungsi lebih
efektif yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual
dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat dilihat
dari hubungan individu dan sosial yang terganggu. Menurut Stuart dan Sundeen
penilaian tentang konsep diri dapat dilihat berdasarkan rentang-rentang respon
konsep diri, yaitu
- Aktualisasi Diri
Aktualisasi diri
adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang
pengalaman yang nyata yang sukses dan diterima.
- Konsep Diri Positif
Konsep diri
positif apabila individu memiliki pengalaman yang positif dalam beraktualisasi
diri.
- Harga Diri Rendah
Harga diri
rendah adalah transisi antara respon konsep diri adaptif dengan respon konsep
diri maladaptif.
- Kerancuan Identitas
Kekacauan
identitas adalah kegagalan individu mengintegrasikan aspek – aspek identitas
masa kanak – kanak ke dalam kematangan aspek psikososial kepribadian pada masa
dewasa yang harmonis.
- Depersonalisasi
Depersonalisasi
adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang
berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya
dengan orang lain.
B. Pembagian Konsep Diri
Untuk Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian konsep diri tersebutdikemukakan oleh Stuart dan Sundeen (1991), yang terdiri dari :
1.
Pola Gambaran Diri (Body Image)
Gambaran diri adalah sikap
seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini mencakup
persepsi dan perasaan tentang ukuran, bentuk, dan fungsi penampilan dan potensi
tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan
pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen, 1991). Sejak
lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima stimulus dari orang
lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan mulai sadar dirinya terpisah
dari lingkungan (Keliat, 1992).
Gambaran diri berhubungan dengan kepribadian. Cara individu memandang dirinya
mempunyai dampak yang penting pada aspek psikologisnya. Individu yang stabil,
konsisten dan realistis terhadap gambaran dirinya akan memperlihatkan kemampuan
yang mantap terhadap realisasi yang akan memacu sukses dalam kehidupan. Menurut
Potter dan Perry (2005), Body
image berkembang secara bertahap selama beberapa tahun
dimulai sejak anak belajar mengenal tubuh dan struktur, fungsi, kemampuan dan
keterbatasan mereka. Body image (citra tubuh) dapat berubah dalam beberapa jam,
hari, minggu atau pun bulan tergantung pada stimuli eksterna dalam tubuh dan
perubahan aktual dalam penampilan, stuktur dan fungsi.
2.
Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang
bagaimana ia seharusnya bertingkah laku berdasarkan standar pribadi. Standar
dapat berhubungan dengan tipe orang yang diinginkan/disukainya atau sejumlah
aspirasi, tujuan, nilai yang diraih. Ideal diri akan mewujudkan cita-cita
ataupun penghargaan diri berdasarkan norma-norma sosial di masyarakat tempat
individu tersebut melahirkan penyesuaian diri. Ideal diri berperan sebagai
pengatur internal dan membantu individu mempertahankan kemampuan menghadapi
konflik atau kondisi yang membuat bingung. Ideal diri penting untuk
mempertahankan kesehatan dan
keseimbangan mental. Pembentukan ideal diri dimulai pada masa anak-anak
dipengaruhi oleh orang yang dekat dengan dirinya yang memberikan harapan atau
tuntunan tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu individu
menginternalisasikan harapan tersebut dan akan membentuk dari dasar ideal diri.
Pada usia remaja, ideal diri akan terbentuk melalui proses identifikasi pada
orang tua, guru dan teman. Pada usia yang lebih tua dilakukan penyesuaian yang
merefleksikan berkurangnya kekuatan fisik dan perubahan peran serta tanggung
jawab.
Menurut Anna Keliat (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri,
yaitu
:
a. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas
kemampuannya.
b. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal
diri.
c.
Ambisi dan
keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan
untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.
d.
Kebutuhan yang
realistis.
e.
Keinginan untuk
menghidari kegagalan.
f.
Perasaan cemas
dan rendah diri.
Ideal diri hendaknya ditetapkan tidak terlalu
tinggi, tetapi masih lebih tinggi darikemampuan agar tetap menjadi pendorong
dan masih dapat dicapai.
3.
Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil
yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak kesesuaian tingkah laku dengan
ideal dirinya. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, yaitu
dicintai, dihormati dan dihargai. Mereka yang menilai dirinya positif cenderung
bahagia, sehat, berhasil dan dapat menyesuaikan diri, sebaliknya individu akan
merasa dirinya negatif, relatif tidak sehat, cemas, tertekan, pesimis, merasa
tidak dicintai atau tidak diterima di lingkungannya.
Harga diri dibentuk sejak kecil dari adanya penerimaan dan perhatian. Harga
diri akan meningkat sesuai dengan meningkatnya usia. Harga diri akan sangat
mengancam pada saat pubertas, karena pada saat ini harga diri mengalami
perubahan, karena banyak keputusan yang harus dibuat menyangkut dirinya
sendiri. Harga diri tinggi terkait dengan ansietas yang rendah, efektif dalam
kelompok dan diterima oleh orang lain. Harga diri rendah terkait dengan
hubungan interpersonal yang buruk, resiko terjadi depresi, dan skizofrenia. Gangguan harga diri dapat
digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri termasuk hilangnya
percaya diri dan harga diri.
4. Identitas
Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian
yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan
keunikan individu.Mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas
seseorang.Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan seterusnya
berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
Pada masa anak- anak , untuk membentuk identitas dirinya, anak harus mampu
membawa semua perilaku yang di pelajari kedalam keutuhan yang koheren ,
konsisten dan unik. Rasa identitas ini secara kontiniu timbul dan di pengaruhi
oleh situasi sepanjang hidup. Pada masa remaja , banyak terjadi perubahan
fisik, emosional, kognitif dan social. Dimana dalam masa ini apabila tidak dapt
memenuhi harapan dorongan diri pribadi dan social yang membantu mendefinisikan
tentang diri maka remaja ini dapat mengalami kebingungan identitas. Seseorang
dengan rasa identitas yang kuat akan merasa terintegrasi bukan terbelah.
5. Peran (Role Performance)
Peran adalah serangkaian pola perilaku
yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di
berbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang
tidak mempunyai pilihan. Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih
oleh individu. Peran
adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang
berdasarkan posisinya di masyarakat. Harga diri yang tinggi merupakan hasil
dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat
dapat merupakan stressor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan
kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan.
C. Konsep Diri Positif dan Konsep Diri Negatif
Menurut Calhoun dan Acocela (1990),
dalam perkembangannya konsep diri terbagi menjadi dua, yaitu konsep diri
positif dan konsep diri negatif.
1.
Konsep Diri Positif
Konsep
diri positif kepada penerimaan diri bukan sebagai suatu kebanggaan yang
besar tentang diri.Konsep diri yang positif bersifat stabil dan
bervariasi.Individu yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang tahu
betul tentang dirinya.
Individu dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang
sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri, evaluasi terhadap dirinya
sendiri menjadi positif dan dapat menerima keberadaan orang lain.
Individu yang memiliki konsep diri positif akan merancang
tujuan-tujuan yang sesuai dengan realitas, yaitu tujuan yang memiliki
kemungkinan besar untuk dapat dicapai, mampu menghadapi kehidupan di depannya
serta menganggap bahwa hidup adalah suatu proses penemuan. Singkatnya, individu
yang memiliki konsep diri positif adalah individu yang tahu betulsiapa dirinya
sehingga dirinya menerima segala kelebihan dan kekurangan, evaluasi terhadap
dirinya menjadi lebih positif dan mampu merancang tujuan-tujuan yang sesuai
dengan realitas.
Seseorang
yang memiliki konsep diri positif memiliki karakterikstik seperti berikut:
a. Merasa sanggup menyelesaikan masalah yang terjadi. Pemahaman
diri terhadap kemampuan subyektif dalam menyelesaikan masalah-masalah obyektif
yang dihadapi.
b. Merasa sepadan dengan orang lain. Seseorang yang memiliki
konsep diri positif memiliki pemikiran bahwa saat dilahirkan manusia tidak
membawa kekayaan dan pengetahuan. Kekayakan dan pengetahuan bisa dimiliki dari
bekerja dan proses belajar selama hidup. Hal inilah yang mendasari sikap
seseorang yang tidak merasa kurang ataupun lebih dari orang lain.
c. Tidak malu saat dipuji. Konsep diri positif membangun pribadi
yang memiliki pemahaman bahwa pujian atau penghargaan layak diterima seseorang
berdasarkan hasil yang telah dicapainya.
d. Merasa mampu memperbaiki diri. Dengan memiliki konsep diri
positif seseorang akan merasa mampu untuk memperbaiki sikap yang dirasa kurang.
Dalam
al-qur’an Allah berfirman mengenai konsep diri positif yaitu dalam sura ali
imron ayat 139 dan fusshilat ayat 30.
وَلَا
تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
”Janganlah kamu
bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman”. (Ali Imran: 139)
إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan
mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah
kepadamu”. (Fusshilat: 30).
2.
Konsep Diri Negatif
Calhoun dan Acocela membagi konsep diri negatif
menjadi dua tipe, yaitu : Pandangan individu tentang dirinya sendiri
benar-benar tidak teratur, tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan
diri. Individu tersebut benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kelebihan dan
kelemahannya atau cara hidup yang tepat. Singkatnya, individu yang memiliki
konsep diri negatif terdiri dari 2 tipe, tipe pertama yaitu individu yang tidak
tahu siapa dirinya dan tidak mengetahui kekurangan dan kelebihannya, sedangkan
tipe kedua adalah individu yang memandang dirinya dengan sangat teratur dan
stabil. Seseorang dengan konsep diri negatif akan menunjukkan karakteristik
seperti berikut ini:
a. Sensitif
terhadap kritik. Pemilik konsep diri negatif biasanya kurang bisa menerima
kritik dari orang lain sebagai upaya refleksi diri.
b. Senang
dengan pujian. Sikap berlebihan terhadap tindakan yang dilakukan sehingga
merasa perlu mendapat penghargaan terhadap segala tindakannya.
c. Merasa
tidak disukai orang lain. Selalu muncul anggapan bahwa orang lain disekitarnya
akan memandang negatif terhadap dirinya.
d. Suka
mengkritik orang lain. Meski tidak suka dikritik namun pribadi ini senang
sekali menghujani kritikan negatif kepada orang lain.
e. Bermasalah
dengan lingkungan sosialnya. Pribadi yang memiliki konsep diri negatif merasa
kurang mampu berinteraksi dengan orang lain.
D. Mengembangkan Perkembangan Konsep Diri
Konsep diri terbentuk melalui proses
belajar sejak masapertumbuhan seseorang manusia dari kecil hingga dewasa.
Lingkungandan pengalaman orang tua turut memberikan pengaruh yang
signifikanterhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap orang tua dan lingkungan
akanmenjadi bahan informasi bagi anak untuk tumbuh menilai siapa dirinya.Lingkungan yang kurang mendukung
akan membentuk konsep diri yangnegatif. Jika lingkungan dan orang tua mendukung
dan memberikan sifatbaik akan membentuk konsep diri siswa yang positif.
Menurut Charles Horton Cooleykonsep diri
dapat dimunculkan dengan melakukanpembayangan diri sendiri sebagai orang lain,
yang disebutnya sebagailooking-glass self (diri-cermin) seakan-akan kita
menaruh cermindihadapan kita sendiri. Prosesnya dimulai dengan
membayangkanbagaimana kita tampak pada orang lain, kita melihat sekilas diri
kitaseperti dalam cermin. Misalnya, kita merasa wajah kita menarik atau
tidakmenarik. Proses kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain
menilaipenampilan kita. Apakah orang lain menjadi kita menarik, cerdas
atautidak menarik. Proses ketiga, kita kemudian mengalami perasaan banggaatau
kecewa atas percampuran penilaian diri kita sendiri dan penilaianorang lain.
Jika penilaian kita terhadap diri sendiri positif, dan orang lainpun menilai
kita positif, maka kita kemudian mengembangkan konsep diriyang positif. Begitu
sebaliknya, penilaian orang lain terhadap diri kitanegatif, dan kita pun
menilai diri kita negatif, maka kemudian kitamengembangkan konsep diri yang
negatif.
Menurut
Verderber, upaya
mengembangkan perkembangan konsep diri individu dapat dilakukan dengan cara:
a.
Self-appraisal
Istilah ini menunjukkan suatu pandangan yang
menjadikan diri sendirisebagai objek dalam komunikasi atau dengan kata lain
adanya kesankita terhadap diri kita sendiri.
b.
Reaction and
Response of Others
Konsep diri itu tidak saja berkembang melalui
pandangan kita terhadap
diri
sendiri, namun berkembang dalam rangka interaksi kita denganmasyarakat. Dengan
demikian apa yang ada pada diri kita dievaluasioleh orang lain melalui
interaksi kita dengan orang tersebut, dan padagilirannya evaluasi masing-masing
individu mempengaruhiperkembangan konsep diri kita.
c.
Roles You
Play-Role Taking
Peran memiliki pengaruh terhadap konsep diri, adanya
aspek peranyang kita mainkan sedikit banyak akan mempengaruhi konsep
diriindividu. Peran yang individu mainkan itu adalah hasil dari sistem
nilaiindividu. Individu dapat memotret diri sebagai individu yang bermainsesuai
persepsi yang didasarkan pada pengalaman diri sendiri, yang didalamnya terdapat
unsur selektivitas dari keinginan individu untukmemainkan peran.
d.
Reference Groups
Konsep diri individu juga terbentuk dari adanya
kelompok yangbercirikan individu itu terkumpul dalam suatu kelompok
ataukomunitas yang diiinginkan. Setiap kelompok tersebut mempunyaiikatan
enosional yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadappembentukan konsep diri
individu. Dalam kelompok tersebut individuakan mengarahkan perilakunya dan
menyesuaikan dirinya sesuaidengan ciri-ciri dan karakteristik kelompoknya itu. Artinya
jika kelompok ini kita anggap penting dalam arti mereka dapat menilai dan
bereaksi pada kita, hal ini akan menjadi kekuatan untuk menentukan konsep diri.
Jadi cara kita menilai diri kita merupakan bagian darifungsi kita dievaluasi
oleh kelompok rujukan.
e.
Berpikir positif
Segala sesuatu tergantung pada cara kita memandang
segala sesuatubaik terhadap persoalan maupun terhadap seseorang,
artinyakendalikan pikiran jika pikiran itu mulai menyesatkan jiwa dan raga.
f.
Jangan memusuhi
diri sendiri
Sikap menyalahkan diri sendiri yang berlebihan
merupakan pertandabahwa ada permusuhan dengan kenyataan diri akan menimbulkan konsep diri yang negatif.
E. Pengaruh Konsep Diri Terhadap Prestasi
1.
Pengertian Prestasi
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang setelah
ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Webster’s
New International Dictionary mengungkapkan bahwa prestasi adalah : “Achievement
test a standardised test for measuring the skill or knowledge by person in one
more lines of work a sudy”.Prestasi
adalah tes standaruntuk mengukur
kecakapan atau pengetahuan bagi seseorang dalam satu atau lebih garis-garis
pekerjaan atau belajar. Prestasi belajar yang dicapai seorang individu
merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari
dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu.
Sumber penguat belajar dapat secara ekstrinsik (nilai, pengakuan,
penghargaan) dan dapat secara intrinsik (kegairahan untuk menyelidiki,
mengartikan situasi). Prestasi belajar ialah hasil usaha bekerja atau belajar
yang menunjukkan ukuran kecakapan yang dicapai. Siswa
harus memiliki prestasi belajar yang baik demi terciptanya manusia yang
berkualitas dan berprestasi tinggi. Prestasi belajar merupakan tolak ukur
maksimal yang telah dicapai siswa setelah melakukan proses belajar selama waktu
yang ditentukan. Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai
faktor, baik berasal dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya
(eksternal).
Faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang
dikhusukan ke konsep diri, adalah adanya konsep diri yang tinggi.Konsep diri yang tinggi akan memudahkan siswa belajar secara teratur
dan terarah. Sedangkan konsep diri rendah akan menjadikan seseorang memiliki perasaan tidak mampu memahami diri sendiri, rendah diri, sehingga siswa
tersebut menjadi minder bergaul danmengurangi interaksi di sekolah. Selain itu konsep diri yang tinggi menjadikan
seeorang menjadi percaya diri atas apa yang dimilikinya sehingga menjadikan
seseorang agar selalu berpikir positif terhadap dirinya sendiri.
Konsep diri menjadikan seseorang melakukan suatu perbuatan tertentu
sehingga konsep diri sangat dibutuhkan dalam membentuk kepribadian
seseorang.Prestasi belajar dapat ditentukan oleh berbagai aspek salah satunya
adalah konsep diri. Ketika seorang individu mempunyai konsep diri yang baik
sehingga dapat melahirkan suatu pola berpikir yang positif, maka hal itu akan
memudahkan seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang terarah. Hubungan konsep
diri dengan prestasi diantaranya:
a.
Meningkatkan Motivasi
Motivasi yang tumbuh dari dalam diri seseorang (internal) maupun dari luar
diri seseorang (eksternal) dapat mempengaruhi konsep diri yang akan dibentuk
dan dibangun sehingga hal itu menjadi salah satu pemicu pembentukan
kepribadian. Jika seseorang mempunyai konsep diri yang positif, maka hal itu
dapat meningkatakan motivasi seseorang dan mendorongnya untuk melakukan suatu dalam
meningkatkan prestasi belajar.
b.
Meningkatkan rasa percaya diri
Ketika seseorang sudah memiliki konsep diri yang positif, maka akan
melahirkan rasa percaya diri di dalam diriya. Sehingga memudahkan seseorang
untuk berinteraksi dan melakukan berbagai macam kegiatan yang dapat menunjang
prestasi belajar seseorang.
c.
Menjadikan seseorang memahami dirinya, baik
kelebihan dan kekurangannya
Konsep diri yang positif menjadikan seseorang lebih memahami siapa dirinya,
kemampuannya dan kekurangannya. Jika seseorang telah mengetahui kelebihan dan
kekuranagnnya, maka ia akan mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan tertentu seperti hal nya prestasi belajar.
d.
Menjadikan seseorang untuk berpikir positif
Pikiran positif yang ada pada diri seseorang berasal dari pengkonsepan
seseorang mengenai dirinya sendiri.Hal itu terbentuk dari faktor internal
maupun eksternal. Ketika seseorang dapat berpikir positif mengenai berbagai hal
termasuk mengenal diri sendiri maka itu akan memudahkannya untuk mencapai
prestasi belajar yang baik.
e.
Memudahkan seseorang dalam belajar
Konsep diri yang positif akan melahirkan berbagai hal yang positif seperti
berpikir positif, motivasi, pemahaman terhadap diri sendiri, meningkatkan rasa
percaya diri, dan lain sebagainya. Dengan adanya pengkonsepan diri yang
positif, maka akan memudahkan seseorang dalam mencapai tujuannya. Memudahkan
seseorang dalam proes belajar, sehingga dapat menunjang prestasi belajar yang
baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar